Pemutaran dan instruksi wajib tonton atas film tersebut sudah dicabut ketika Orde Baru tumbang, dan Indonesia masuk masa reformasi. Namun, kini polemik tentang pemutaran film itu kembali muncul. TNI berencana menggelar nonton bareng film tersebut.
Hasilnya, sebanyak 72 persen pembaca CNNIndonesia.com yang mengikuti jajak pendapat menyatakan 'Tertarik untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI'. Dan, sisanya, sebanyak 28 persen menyatakan tidak tertarik. Jajak pendapat ini tidak bersifat ilmiah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Rencana TNI dan beberapa pihak untuk memutar film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI pada akhir bulan ini mengundang kembali perhatian publik atas peristiwa 1965 silam.
Apalagi, ketika muncul rencana pemutaran tersebut, di saat yang hampir bersamaan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta memfasilitasi tempatnya untuk seminar sejarah 1965/1966.
Kegiatan di LBH yang sejatinya digelar Sabtu (16/9) itu memang kemudian dibatalkan ketika polisi turun tangan. Namun, sehari kemudian di gedung yang sama digelar kegiatan apresiasi seni 'Asik-Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi'.
Ketika acara berakhir pada pukul 21.00, peserta kegiatan tak bisa keluar dari gedung LBH Jakarta karena kepungan massa di luar. Massa menuding ada kegiatan terkait PKI di dalam gedung lembaga bantuan hukum yang berdiri pada 1970 silam itu. Dan, pengepungan itu pun berujung rusuh sehingga dibubarkan paksa polisi pada Senin (18/9) dini hari WIB.
Polisi membubarkan aksi pengepungan di depan Gedung LBH Jakarta, Senin (18/9) dini hari WIB. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
Dalam catatan CNNIndonesia.com, Golkar mendukung TNI dan merencanakan menggelar pemutaran film serupa. Selain itu, Partai Amanat Nasional (PAN) pun mencanangkan bakal memutar film itu.
Terkait hal tersebut, Pengurus Besar Nadhlatul Ulama membebaskan kepada warga organisasi massa Islam tersebut untuk menonton atau tidak. Sekjen PBNU Helmy Faishal menyatakan masyarakat, terutama santri sudah cerdas dalam menyikapi sejarah bangsa.
Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo pun menyatakan pemerintah tak melarang karena menonton film tentang sejarah sebagai hal yang penting. Namun, pria yang terpilih dalam pilpres 2014 itu menyarankan agar dibuatkan film baru terkait peristiwa pada 1965 itu agar bisa dinikmati generasi milenial.
Polisi membubarkan aksi pengepungan di depan Gedung LBH Jakarta, Senin (18/9) dini hari WIB. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)