Alasan Rehabilitasi Narkoba Minim Peminat

Lalu Rahadian , CNN Indonesia | Kamis, 21/09/2017 06:00 WIB
Alasan Rehabilitasi Narkoba Minim Peminat Ilustrasi penyalahgunaan narkoba. (Maximum/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rehabilitasi pengguna narkotik dan obat-obatan terlarang masih minim peminat. Hal itu, dinilai terkendala stigma masyarakat yang memandang proses tersebut memalukan bagi keluarganya.

Fakta tersebut diungkap Direktur Pascarehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigjen Budiyono usai pemusnahan belasan kilogram sabu dan Syntetic Cannabinoid, Rabu (20/9).

"Tahun 2017 targetnya 30 ribu orang, tapi sampai sekarang baru mencapai sekitar 60 persen, 16 ribuan lah," kata Budiyono di Kantor BNN RI, Jakarta.

Berdasarkan data yang dimiliki BNN, ada 4-5 juta orang yang pernah menggunakan narkoba. Dari angka tersebut, pengguna aktif narkoba berjumlah 1-2 juta orang.

Terkait proses rehabilitasi itu, Budiyono mengatakan itu dapat dilakukan tanpa dipungut biaya, namun masih sedikit yang memanfaatkan proses gratis itu.

"[Pemanfaat] rehab yang ada justru (pengguna) yang ditangkap oleh polisi, ketika ia dinyatakan pecandu lalu direhab. Sehingga sangat sedikit sekali, dari jutaan itu hanya puluhan ribu saja yang sudah kita rehab," katanya.

Budiyono mengingatkan, pecandu narkoba tidak akan ditangkap ketika hendak melakukan rehabilitasi. Hal itu terjadi karena penahanan dan penangkapan tak akan dilakukan bila pecandu masuk dalam kategori korban narkoba.

"Tapi kalau ditangkap ada barang bukti, seperti Iwa K, Tora Sudiro, ada hukumannya," ujarnya.

Adapun terkait narkoba yang umum disalahgunakan di Indonesia adalah jenis sabu dan ganja.