Mereka yang Enggan Mengungsi di Tengah Ancaman Erupsi

Antara, CNN Indonesia | Selasa, 26/09/2017 11:00 WIB
Mereka yang Enggan Mengungsi di Tengah Ancaman Erupsi Banyak warga di Desa Tianyar memilih bertahan walau sudah mendapat perintah untuk mengungsi sejak aktivitas Gunung Agung meningkat menjadi Level IV. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Desa Tianyar masuk dalam radius 12 km dari Gunung Agung atau dalam kawasan rawan bencana (KRB). Namun banyak warga di sana memilih tetap bertahan di rumahnya walau sudah mendapat perintah untuk mengungsi pascapeningkatan aktivitas Gunung Agung.

Sejumlah warga di lereng Gunung Agung itu enggan mengungsi dengan alasan hewan ternaknya berupa sapi dan babi tidak ada yang merawat.

Dengan alasan itu, mereka tetap bertahan meskipun sebagian besar warga lain telah berbondong-bondong mengungsi sejak status Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali, meningkat menjadi Level IV atau Awas sejak Jumat (22/9) malam.
Pemimpin ritual agama Hindu di desa tersebut, Jero Mangku Puseh bersama puluhan warga lainnya memilih tetap bertahan. Alasannya takut sapi ternak piaraannya yang menjadi sumber kehidupan keluarga dicuri orang.


Selain bertahan, aktivitas galian C di Desa Tianyar yang berlokasi di sebelah utara Gunung Agung hingga Minggu (24/9) masih berjalan seperti biasa. Sejumlah kendaraan berat berisi pasir melintas di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Karangasem dengan Kabupaten Buleleng.

Meski demikian, Jero Mangku Paseh mengatakan sebagian besar warganya sudah mengungsi ke tempat aman seperti posko pengungsian Desa Les dan tempat penampungan lainnya di Kabupaten Buleleng.

Sisir Zona Bahaya

Adapun Komandan Kodim 1623 Karangasem Letkol Inf Fierman Sjafierial Agustus bersama tim gabungan lainnya telah meningkatkan penyisiran di daerah zona bahaya untuk mengevakuasi warga yang masih bertahan di beberapa desa sekitar Gunung Agung.
Dalam Rapat Koordinasi Darurat Gunung Agung, dia meminta warga lereng Gunung Agung dalam radius 12 kilometer untuk mematuhi instruksi petugas sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan terburuk, misalnya terjadi erupsi Gunung Agung.

Fierman yang juga Komandan Satuan Tugas Siaga Darurat Gunung Agung itu mengklaim evakuasi hampir 100 persen dilakukan di kawasan rawan bencana (KRB) III yang merupakan zona merah dan KRB II yang merupakan zona merah muda.

Namun, tidak jarang beberapa warga, terutama yang memiliki ternak, kembali ke desa untuk memberi makan ternak yang tidak ikut diungsikan.
Ia berkali-kali telah mengimbau warga untuk turun dari lereng gunung karena berbahaya mencermati status awas Gunung Agung sejak Jumat (20/9).

Di satu sisi Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengatakan bahwa pemkab setempat mengupayakan membeli ribuan hewan ternak milik para pengungsi untuk mencegah agar tidak dijual dengan harga murah. Apalagi masyarakat yang tinggal di daerah pengungsian panik dan khawatir terhadap ternak yang ditinggal.

Untuk itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI dan Polri serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan evakuasi ternak sapi secara bertahap sejak Sabtu (23/9) lalu. (osc/gil)