Dibandingkan sibuk mengantisipasi isu kebangkitan PKI, menurut Muhaimin, lebih baik memperbaiki taraf ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah. Sebab menurutnya, paham komunisme mudah tumbuh di kalangan masyarakat bawah.
Selain itu, kata Muhaimin, PKB dan Nahdlatul Ulama selama ini sering melakukan kegiatan keagamaan di masyarakat. Dua misi itu dinilai lebih penting dilakukan saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyampaikan, alangkah baiknya semua pihak yang terlibat peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) saling memaafkan. Muhaimin mengatakan, sejarah kelam itu tidak perlu diungkit kembali.
"Tetapi tidak boleh dilupakan, (G30S) menjadi sejarah pahit yang tidak boleh terjadi lagi," kata Muhaimin.
Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI digelar di sejumlah wilayah. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
"Masing-masing punya hak demokrasi. Mau nonton film atau enggak mau nonton film kan itu hak demokrasi seseorang," tuturnya.
PKB sendiri tidak berencana menggelar acara nonton bareng film tersebut. Pihaknya justru berencana mengadakan acara nonton film Sang Kiai. Acara tersebut akan dilaksanakan pada peringatan Hari Santri mendatang.
"21 Oktober kita akan memutar film Sang Kiai. Cerita tentang sejarah KH Hasyim Ashari dan perang kemerdekaan," ujar Cak Imin.
Sebelumnya, sejumlah ormas berencana menggelar aksi menyikapi isu kebangkitan PKI pada Jumat (29/9). Salah satu indikasinya yaitu wacana pencabutan Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI.
Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI digelar di sejumlah wilayah. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)