Slamet mengutarakan hal tersebut usai konferensi pers terkait rencana Aksi 299 di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (27/9).
"Saya pikir sah-sah saja asal tidak menyalahi fakta sejarah," ujar Slamet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Slamet, pemerintah harus terlebih dahulu mengadakan suatu dialog nasional untuk membicarakan tentang semua hal yang akan ditampilkan pada film G30S/PKI yang baru. Dialog nasional itu harus melibatkan semua elemen yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Slamet menilai hal hal itu berpotensi terjadi. Menurutnya, pemerintahan Jokowi cenderung memberi ruang yang lebih leluasa terhadap pihak-pihak yang berusaha membangkitkan kembali paham komunisme di Indonesia.
[Gambas:Video CNN]
Misalnya, membiarkan suatu kelompok mengadakan seminar yang berbau komunis yang jelas bertentangan dengan Tap MPRS Nomor 25 tahun 1966 mengenai pelarangan PKI.
"Justru tokoh-tokoh yang mengingatkan PKI justru dikriminalisasi seperti Alfian Tanjung," ucap Slamet.
Presiden Joko Widodo mengusulkan wacana pembuatan film tentang G30S/PKI yang baru untuk menggantikan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI yang dibuat pada tahun 1984 silam.
Jokowi menganggap perlu ada film baru yang sesuai dengan selera masyarakat masa kini.
"Akan lebih baik kalau ada versi yang paling baru, agar lebih kekinian, bisa masuk ke generasi-generasi milenial,” katanya.