Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, sapi adalah aset berharga warga yang tinggal di lereng Gunung Agung. Karena warga tak bisa begitu saja menelantarkannya.
Karena banyak warga enggan meninggalkan rumah mereka lantaran sapi mereka itu. Ada juga yang sudah tinggal di pengungsian, memilih pulang pada siang hari untuk memberi pakan sapi mereka dan kembali ke pengungsian pada malam hari.
Lihat juga:Menyusur Jalur Lahar Lereng Gunung Agung |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini yang diharapkan tidak terjadi dalam penanganan erupsi Gunung Agung. Karena itu selain warga, petugas juga mengevakuasi ribuan sapi milik warga.
Evakuasi hewan ternak ini dilakukan dengan bantuan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, dan Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem.
Pengungsi bahaya erupsi Gunung Agung di Karangasem Bali. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana) |
Ketersediaan pakan ternak juga terbatas. Kebutuhan konsentrat sapi untuk satu bulan sebesar 1.200 ton, dan saat ini baru tersedia 60 ton.
"Begitu juga kebutuhan pakan hijau selama satu bulan diperlukan 15.000 ton. Selain itu juga terbatasnya jumlah personil, pengawasan dan perawatan ternak," kata Sutopo.
Keberadaan sapi dalam daftar pengungsi ini membuat teori penanggulangan bencana yang diadopsi dari negara-negara maju, justru tak bisa dipraktikkan.
Sutopo mengatakan, dengan segala kakhasannya ini, Indonesia malah bisa disebut sebagai laboratorium bencana.
Menurutnya, jalur kultural dengan pendekatan kepada masyarakat dirasa lebih efektif dibandingkan dengan jalur struktural, terutama dalam menangani masyarakat yang harus mengungsi dari ancaman letusan gunung api.
Pengungsi bahaya erupsi Gunung Agung di Karangasem Bali. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)