Suara Rizieq sendiri keluar dari pengeras suara yang terpasang pada mobil bak terbuka yang dijadikan mobil komando Aksi 299 di depan pagar Gedung DPR.
Dalam orasinya, buronan kasus penyebaran konten pornografi itu menggarisbawahi tentang kebangkitan komunisme dan antek-antek PKI. Reformasi 1998 jadi momentumnya. Sejak saat itu, keturunan-keturunan PKI disebutnya mulai merambah partai-partai dan lembaga negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masuknya antek-antek komunis ke institusi-insitusi negara itu, lanjut Rizieq, membuat mereka leluasa untuk memutarbalikkan sejarah pengkhianatan PKI. Hal itu ditandai dengan hilangnya sejarah PKI dari kurikulum dan buku-buku pelajaran sekolah.
"Siapa yang bisa menghapus kurikulum? Dia bukan orang biasa. Dia punya kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan sosial. Kalau rakyat jelata biasa enggak mungkin bisa menghapus pelajaran pendidikan pengkhianatan PKI dari kurikulum," serunya.
Ketidaktahuan generasi muda ini, kata Rizieq, juga tak lepas dari strategi media-media yang tak menayangkan lagi film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Baginya, hal ini tak bisa dipisahkan dari kesalahan pemilik media.
Rizieq mengklaim, indikasi-indikasi di atas merupakan bukti nyata bangkitnya PKI di Indonesia. "Ini fakta, ini indikasi kebangkitan PKI yang tidak terbantahkan," yakinnya.
Orasi Rizieq itu sendiri kemudian terdengar terputus, belum rampung akibat gangguan teknis.
Terpisah, Survei Saiful Mujani Reasearch and Consulting (SMRC) mengungkap bahwa sebagian besar masyarakat mengangap isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai isapan jempol belaka.
Bahwa, sebanyak 86,8 persen warga tidak setuju anggapan PKI kembali bangkit saat ini. Namun, ada 12,6 persen responden yang setuju dengan isu itu, dan 0,6 persen warga mengaku tidak tahu atau tidak menjawab.