Sejak Sabtu (30/9) Jonru resmi mendekam di Rumah Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya sebagai tersangka kasus ujaran kebencian. CNNIndonesia.com berkesempatan berbicara langsung dengan pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara, 46 tahun silam ini.
Di sebuah ruang pertemuan khusus di Polda Metro Jaya, Jonru yang mengenakan seragam tahanan berwarna oranye, meluangkan sedikit waktu bercerita tentang sisi-sisi lain kehidupannya sebelum mendekam di tahanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan, karya-karyanya itu tak berisi kritikan terhadap pemerintah seperti kerap ia tuangkan di akun Facebooknya, dua tahun terakhir. Karya-karyanya justru berupa novel dan kumpulan cerita pendek yang berkisah tentang percintaan masa remaja.
"Ternyata Jonru bisa romantis juga," ujar Jonru sambil sedikit tertawa.
Pria jebolan Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah tahun 1998 ini adalah salah satu 'selebriti' media sosial. Ia dikenal karena status-statusnya kerap mengkritik pemerintahan Joko Widodo dan pihak-pihak tertentu.
Jonru mengelola halaman bernama Jonru Ginting yang disukai dan diikuti hampir 1.500.000 netizen.
Di halaman itulah dirinya rutin menulis status-status berisi bernuansa sosial politik. Status-statusnya tak jarang menjadi kontroversi dan viral karena dinilai kerap menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Atas anggapan SARA itu, Jonru mengaku hanya menuangkan buah pikiran yang dirasakannya soal fenomena di sekitarnya. Tulisan itu bisa berupa fakta atau opini.
"Saya hanya menyampaikan fakta, bukan melecehkan," ujarnya.
Berdagang Online
Hal lain yang diceritakan Jonru adalah aktivitas bisnisnya di internet. Selain aktif menulis status bertema sosial-politik, Jonru juga mengaku memanfaatkan halaman Facebooknya sebagai media untuk berdagang.
Di halaman Facebook itu dan di Instagram, Jonru menjajakan barang dagangannya seperti buku dan pakaian.
Dia juga mengelola yayasan sosial Akrom Foundation. Yayasan sosial itu bukan miliknya secara pribadi.
Akrom Foundation berdiri sejak 2015 dan memiliki cabang di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.
"Saya hanya dipercaya untuk mengelola yayasan itu," ucapnya.
Jonru usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. (ANTARA FOTO/Reno Esnir) |
"Saya tidak tahu alasannya, saya hanya dihubungi dan diberitahukan jika saya mendapatkan hadiah umroh, mungkin simpati sama saya," ujarnya.
Selama perbincangan, Jonru sebenarnya tak banyak berbicara. Dia mengaku sakit sejak diperiksa polisi, namun Jonru menyatakan tak menyesali apa yang telah diperbuatnya sehingga masuk penjara.
Mendekam di rutan, kata Jonru, membuatnya mendapatkan pelajaran positif.
"Saya jadi lebih banyak beribadah. Saya juga merasakan kalau dukungan keluarga begitu besar, saya belum menyadari hal ini dulu," tuturnya.
Jonru usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)