Menurutnya, pelibatan tentara dalam politik praktis di masa Orde Baru memengaruhi sikap TNI yang masih berlanjut pascareformasi.
"Memang DNA TNI ini adalah berpolitik. Kenapa? Karena mereka dididik dalam rezim Orde Baru," ujar Refly usai diskusi di kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Kamis (5/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga menghilangkan hal itu susahnya minta ampun," kata Refly.
Refly Harun. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Dalam kesempatan itu, Refly pun menjabarkan hal-hal yang membuat pimpinan TNI saat ini, cenderung berani bermanuver di lingkaran politik.
Pertama, sang pimpinan berasal dari suku mayoritas. Menurut Refly, faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap sikap yang dilakukan seorang pimpinan TNI. Kedua, dia merupakan anggota TNI Angkatan Darat.
"Kita tahu Angkatan Darat itu selalu leading di era Orde Baru, dan selalu menjadi anak emas Pak Harto (penguasa Orde Baru, Soeharto)," ujar Refly.
Ketiga, dia memiliki dukungan dari kelompok atau organisasi keagamaan tertentu. Orientasi Organisasi tersebut tentu berkutat pada agama yang dianut kalangan mayoritas.
"Kalau dia punya tiga hal tersebut ditambah sejarah TNI yang sudah 32 tahun berpolitik, tidak heran," kata Refly.
"Jadi mereka tidak boleh memiliki haluan sendiri," kata Refly.
Di satu sisi, sambung Reflu, andai TNI dimanfaatkan presiden untuk kepentingan pribadi, militer tak perlu masuk ke lingkaran politik praktis. Menurut Refly, hal itu sudah menjadi kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mengawasi kinerja presiden dan alat pemerintahan lainnya.
"TNI dan Polri harus tetap stay away dari politik," kata Refly.
Saat ditanya apakah Panglima TNI Gatot Nurmantyo menunjukkan sikap yang politis, Refly hanya menjawab, "Ya dinilai begitulah."
Jenderal lulusan akademi militer pada 1982 itu sendiri dijadwalkan menjadi purnawirawan pada Maret tahun depan.
Refly Harun. (CNN Indonesia/Safir Makki)