“Memang ibu-ibu dan perempuan itu yang bisa menjadi kunci bagi perdamaian scope kecil hingga dunia,” kata Jokowi di Jawa Timur, Minggu (8/10).
Pernyataan itu disampaikan dalam perayaan Hari Perdamaian Internasional 2017 di Pondok Pesantren Annuqayyah, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Acara tersebut turut dihadiri aktivis perempuan dari The Wahid Institute dan UN Women.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Karakter senang damai harus ditumbuhkembangkan dari lingkup keluarga dan perempuan yang mengisi, ibu-ibu,” ucap mantan gubernur DKI Jakarta ini.
Ini berbeda dengan misalnya, Singapura yang hanya memiliki empat suku. Afghanistan yang awalnya hanya memiliki tujuh suku pun, lanjut dia, berkembang menjadi 40 kelompok yang berselisih.
“Indonesia punya 714 suku dan keragaman lainnya, Presiden Afghanistan mengingatkan supaya kita berhati-hati dengan apa yang terjadi di negara itu,” kata Jokowi, merujuk pada pembicaraannya dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, beberapa waktu lalu.
Namun demikian, keragaman di Indonesia yang sejauh ini masih bersanding dengan kedamaian tetap menarik perhatian dan dijadikan contoh negara lain seperti Afghanistan. Presiden Afghanistan, ungkap Jokowi, bahkan akan mengirimkan 40 tim untuk mempelajari perdamaian dalam keberagaman Indonesia, bulan depan.
“Harapan saya gotong royong kita bisa kembangkan. Tanamkan nilai perdamaian di seluruh tanah air dan dunia,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan, karakter perempuan itu pulalah yang mendasari gelaran Hari Perdamaian Internasional di Madura.
“Berkarakter gigih dalam bekerja, toleran, dan gotong-royong. Maka dibentuklah Komunitas Perempuan Berdaya,” tutur Yenny.
Nantinya, perempuan akan semakin digiatkan dalam mendapatkan pembelajaran mengenai Pancasila sehingga bisa menciptakan penerus bangsa yang mencintai kedamaian dalam keberagaman.
Lihat juga:Menag: Kehidupan Agama Semakin Mengeras |