Sesekali Nizar mengisap rokok kreteknya. Dia menikmati senja bersama temannya Ujang. Rumah Nizar tepat di pinggir Kali Ciliwung, tepatnya di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan.
"Sekarang enak sudah bagus, dulu kumuh. Apalagi kalau langit mendung, warga sudah deg-degan, khawatir banjir," kata Nizar saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dulu kami ada data di pos warga. Kalau ketinggian air dari Bogor sudah mencapai angka 100 centimeter, kami siap-siap. Paling parah itu kalau banjir lima tahunan. Bisa merendam rumah,” kata Nizar.
Nizar berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melanjutkan program normalisasi Ciliwung dan menata kembali perkampungan. “Ruang-ruang terbuka hijau ditambah, ditanami pohon, biar rapih, dan enggak panas,” katanya.
Namun upaya membuat nyaman warga dan menata kawasan bantaran kali malah kerap dihujani kritik. Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dinilai tak berpihak pada warga miskin ibu kota.
Kawasan Kampung Pulo setelah Sungai Ciliwung dinormalisasi. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi) |
"Menurut catatan yang ada, era gubernur Ahok terbanyak sepanjang sejarah, hal ini dikonfirmasi oleh sejarawan," kata Pengacara Publik LBH Jakarta Alldo Fellix Januardy saat ditemui CNN Indonesia.com di Kantornya di Jalan Diponegoro Menteng, Jakarta Pusat.
Alldo mengatakan, berdasarkan laporan LBH Jakarta Tahun 2015, terdapat 113 kasus penggusuran paksa dengan 8.145 kepala keluarga dan 6.283 unit usaha terdampak. Penelitian menunjukkan bahwa 84 persen (97 kasus) penggusuran dilakukan tanpa melalui prosedur musyawarah dengan warga.
Sedangkan tahun 2016, terdapat 193 penggusuran paksa di DKI Jakarta dengan jumlah korban 5.726 KK dan 5.379 unit usaha. Dari 193 kasus, 97 merupakan penggusuran terhadap unit usaha, 90 penggusuran terhadap hunian keluarga, dan 6 merupakan penggusuran terhadap kawasan gabungan.
"Provinsi DKI Jakarta menjadi kota yang tidak ramah HAM dan tidak ramah kepada masyarakat miskin," kata Alldo.
Lihat juga:Daftar Warisan Ahok-Djarot untuk Anies-Sandi |
"Kalau dari sisi yang lain, seperti, reformasi birokrasi, transparansi mungkin Ahok boleh dibilang berhasil. Tapi kami memberikan rapor merah untuk Ahok dari segi hak atas rumah," kata Alldo.
"Pembangunan adalah keniscayaan, tapi perhatikan juga sisi kemanusiaannya," katanya.
Selama memimpin DKI Jakarta, Ahok -Djarot menyatakan bahwa penyebab banjir Jakarta adalah sungai yang menyempit. Solusinya, sungai di Jakarta harus dinormalisasi dan satu-satunya cara adalah dengan melenyapkan bangunan di bantaran sungai.
Alasan normalisasi ini yang kemudian menjadi pembenaran akan penggusuran seperti di Kampung Pulo dan Bukit Duri. Padahal, menurut Alldo, ada banyak cara untuk menyikapi warga yang tinggal di bantaran sungai. Pemukiman mereka bisa ditata sedemikian rupa seperti apa yang diusulkan oleh banyak arsitek kampung kota.
Kampung Pulo jadi langganan banjir sebelum Sungai Ciliwung dinormalisasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Penggusuran paksa memicu dampak kemiskinan dan semakin memperbesar ketimpangan ekonomi.
"Penggusuran juga seringkali dilakukan saat sedang terjadi kenaikan kelas bagi anak-anak yang masih bersekolah," kata Alldo.
Di masa pemerintahan Anies-Sandi ke depan, Alldo memprediksi penggusuran juga akan tetap terjadi. “Intinya kami tidak percaya janji kampanye, setiap periode gubernur dibahas tapi penggusuran tetap terjadi," kata Alldo.
Indikasi penggusuran, menurut Alldo dapat dilihat dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Apalagi selama ini, kata dia, masih ada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor. 51 Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk melakukan tindakan-tindakan terhadap warga yang dianggap mendiami tanah yang diklaim milik Negara, meskipun telah tinggal di atas tanah itu selama berpuluh-puluh tahun.
Pengacara LBH Jakarta lainnya, Nelson Nikodemus Simamora berpendapat, penggusuran yang dilakukan pemimpin DKI Jakarta dapat menunjukkan keberpihakan pemimpin tersebut pada rakyat miskin.
"Ahok-Djarot di satu sisi memastikan anak-anak mendapatkan jaminan pendidikan (KJP) tapi menggusur pemukiman warga yang mengakibatkan warga miskin kehilangan tempat tinggal. Hal terakhir tentunya bukan contoh pemimpin yang berpihak pada rakyat miskin," katanya.
Nelson berharap Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Sandi tidak menggusur warga seperti janji manis kampanye mereka.
Kawasan Kampung Pulo setelah Sungai Ciliwung dinormalisasi. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Kampung Pulo jadi langganan banjir sebelum Sungai Ciliwung dinormalisasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)