Ketika Politikus Golkar Berbakti pada Ibu Lewat Suap

Feri Agus , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 01:15 WIB
Ketika Politikus Golkar Berbakti pada Ibu Lewat Suap
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Komisi XI DPR Aditya Anugrah Moha beralasan, pemberian suap sebesar Sin$100 ribu kepada Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara Sudiwardono dilakukan semata-mata demi berbakti pada ibunya, Marlina Moha Siahaan.

Sang ibu merupakan terdakwa dugaan korupsi tunjangan penghasilan aparatur pemerintah desa (TPAD) Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

"Prinsip utama yang telah sampaikan bahwa ini saya lakukan semata-mata demi nama seorang ibu," ucap Aditya, usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/10).


Marlina, yang merupakan Mantan Bupati Bolaang Mongondow, sendiri telah divonis bersalah dan dihukum lima tahun penjara di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Manado. Saat penyuapan terjadi, ia tengah mengajukan banding agar divonis bebas dan tak dikenakan tahanan.

Aditya menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya itu salah. Namun, hal itu tetap dilakukan demi membebaskan ibu dari jeratan hukum.

"Tetapi untuk memperjuangkan nama seorang ibu, saya pikir mas juga, (kalau) dalam posisi saya, kita akan bersepakat bersama untuk melakukan yang terbaik," dalihnya. "Di mana lagi tempat untuk berbakti kalau tidak dari seorang ibu?" kata Politikus Partai Golkar itu menambahkan.


Terpisah, Hakim Agung Gayus Lumbuun mendesak adanya perubahan dan evaluasi total dalam lembaga peradilan di Indonesia. Pihak yang membina dan mengawasi lembaga peradilan pun harus terseleksi dan terevaluasi kredibilitasnya secara berkala.

"Harus ada gerakan untuk perbaikan (di lembaga peradilan), karena dalam lima tahun terakhir, terus ada penangkapan, mulai dari jajaran hakim di pengadilan negeri, pengadilan tinggi, bahkan sekretaris Mahkamah Agung pun turut terseret kasus. Ini hal yang luar biasa," kata Gayus, seperti dikutip dari Antara.

Menurut Gayus, reformasi lembaga kehakiman secara total dapat dilakukan dengan proses evaluasi menyeluruh di seluruh tingkat.

"Caranya, lakukan evaluasi dari PN, PT, dan MA sendiri, serta para pimpinannya. Kita butuh orang-orang baru yang bisa memotivasi bawahannya, karena jika orang baik masih terus masuk ke ember kotor, maka upaya pencegahan dan pembinaan ini akan sia-sia dilakukan," terang Gayus.


Dalam kasus penyuapan hakim itu, KPK baru menetapkan Aditya dan Sudiwardono sebagai tersangka suap. Aditya diduga memberikan uang Sin$100 ribu kepada Sudiwardono untuk membantu Marliana bebas dari jeratan kasus korupsi.

Rinciannya, sebanyak Sin$20 ribu ditujukan agar Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara tak menahan Marlina, dan Sin$80 ribu untuk memengaruhi putusan banding kasus yang menjerat ibunda Aditya itu.