Salah satu 'korban' revitalisasi adalah Yorrys Raweyai yang dicopot dari jabatannya sebagai Ketua Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Golkar.
"Salah satu terjadinya penurunan elektabilitas kemarin juga karena ada gonjang-ganjing di kalangan internal, salah satunya itu," ujar Agung usai bertemu Ketua Umum Golkar Setya Novanto di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (12/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yorrys Raweyai (kiri) dan Setya Novanto. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Dalam rapat pleno DPP Golkar yang berlangsung Rabu (11/10), Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham mengumumkan bahwa revitalisasi pengurus merupakan mandat kepada ketua umum dari rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Golkar Balikpapan dua bulan lalu.
Sejak Rabu lalu, Yorrys belum menanggapi komunikasi yang dilakukan CNNIndonesia.com untuk membahas perihal pencopotan dirinya dalam bagian revitalisasi DPP Golkar.
Upaya revitalisasi dalam tubuh Golkar tak hanya berhenti pada apa yang telah diumumkan Idrus usai rapat pleno pekan ini. Dalam pertemuan dengan Setnov kemarin, Agung mengaku mendapat penjelasan dari Setnov bahwa revitalisasi tak berhenti di tubuh pengurus Dewan Pimpinan Pusat saja.
"Saya tadi bicara dengan beliau masih akan tetap dilanjutkan revitalisasi itu pada bidang-bidang yang lain," kata Agung.
Agung sendiri merelakan revitalisasi yang juga berimbas pada Dewan Pakar yang ia pimpin. Ada mutasi kepengurusan dari Dewan Pakar ke pengurus DPP Golkar.
"Saya merelakanlah. Ada Firman Soebagyo dan lain-lain, yang [nanti] akan diisi pakar-pakar lainnya [sebagai pengganti]," kata Agung.
Firman diketahui menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pakar. Namun, setelah revitalisasi DPP GOlkar, Firman menduduki posisi Ketua DPP Bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah.
Yorrys Raweyai (kiri) dan Setya Novanto. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)