Anies-Sandi Dinilai Masih Sarat Retorik dan Politis

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Kamis, 19/10/2017 14:46 WIB
Anies-Sandi Dinilai Masih Sarat Retorik dan Politis Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno sudah memasuki hari ketiga kerja. Namun, keduanya masih berlaku retorik dan politis ketimbang menunjukkan kinerja. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Duet Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memasuki hari ketiga kerja usai resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Sejak resmi menjabat, Anies dan Sandi terlihat selalu beraktivitas bersama.

Mereka selama tiga hari ini memang selalu berdua saat berkegiatan, seperti berkenalan dengan jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), meninjau proyek Underpass Mampang Jakarta Selatan dengan menggunakan bus Transjakarta, hingga mengunjungi SDN 07 Cawang.

Selain itu, di tengah agenda kegiatan gubernur dan wakil gubernur, Anies-Sandi juga menghadiri acara temu kader Partai Gerindra di kawasan Sentul, Jawa Barat.



Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan menilai, langkah Anies-Sandi yang melakukan kegiatan bersama itu merupakan simbol semata bahwa mereka berdua masih satu haluan usai Pilkada DKI 2017.

Saat Pilkada lalu, keduanya diusung Gerindra dan PKS. Namun, kebersamaan itu dinilai lebih menunjukan aspek retorik dan politis, bukan memperlihatkan kinerja.

"Untuk tataran kinerja harusnya, saya melihatnya lebih ke safari politik. Dia harusnya sudah fokus eksekusi kebijakan publik. Dia harus berhenti di tataran retorika," kata Rafif kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/10).

Menurut Rafif, kegiatan bersama itu juga menunjukan bahwa keduanya ingin mencitrakan hal-hal yang baik kepada publik dan justru cenderung tidak produktif. Kegiatan yang selalu dilakukan bersama-sama dinilainya juga seperti orang kasmaran.

"Langsung eksekusi, saya rasa lebih produktif. Berdua seperti orang pacaran saja (kemana-mana berdua)," ujarnya.

Tak hanya melakukan aktivitas secara bersamaan, efektivitas pemerintahan Anies-Sandi setelah resmi menjabat juga belum terlihat jelas.


Hal itu tampak dari rapat paripurna yang sedianya diselenggarakan DPRD DKI Jakarta untuk mendengar pidato politik Anies, sekaligus penyambutan dari pihak legislatif, yang hingga kini masih tertunda.

Karena tertunda dan belum jelas kapan diselenggarakan, Anies kembali enggan membicarakan lebih jauh janji program saat kampanye Pilkada DKI Jakarta lalu.

Sikap Anies ini seolah mengingkari pernyataannya sendiri yang siap menjawab masalah program dan janji kampanye usai dilantik dan menjabat.

Buntutnya, belum ada penegasan sikap terkait sejumlah program, misalnya proyek reklamasi Teluk Jakarta yang moratorium ke-17 pulaunya sudah dicabut pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Menurut Rafif, baik Anies maupun Sandi harus memikirkan betul cara menunaikan janji-janji kampanyenya kepada publik. Apalagi sikap penolakan reklamasi bertentangan dengan pemerintah pusat.


"Apa yang dijanjikan harus dipikirkan betul. Jadi jangan sampai Anies-Sandi hanya gubernur dan wakil gubernur retorik," ujarnya.

Alumnus Universitas Gadjah Mada ini menyarankan agar Anies-Sandi ke depan mulai berlaku layaknya pejabat publik dan menanggalkan karakter politikus yang melekat saat Pilkada berlangsung.

Dengan begitu, diharapkan segala program yang dijanjikan dapat dilaksanakan keduanya. Di sisi lain, dengan berlaku selayaknya kepala daerah, mereka berdua juga bisa menjaga ritme Pemerintahan Provinsi DKI--yang sudah dibangun oleh duet Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat--agar tetap on the track.