Wawan merupakan salah satu, dari sekian banyak korban rezim Orde Baru.
Sembari memegang payung hitam, Sumarsih bergabung dalam Aksi Kamisan ke-510. Payung hitam yang dia pegang bertuliskan 'Tuntaskan Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarin Sumarsih bersama puluhan orang lainnya berbaur dalam aksi payung hitam yang sudah berlangsung 10 tahun lebih.
Meski langit sore tak bersahabat, mereka tetap menggelar aksi mingguan. Puluhan orang yang kompak mengenakan pakaian gelap, membuat lingkaran kecil. Satu per satu mereka memegang payung hitam.
Kegiatan aksi ini juga diselingi orasi dari beberapa perwakilan peserta. Ada pembacaan puisi dari Sebumi. Setelah itu, band dari Ciliwung Merdeka melantunkan lagu di tengah-tengah massa aksi.
"Enyahkan ketakutan, kekalutan, di benakmu... Teguhkan keyakikan, kebanaran di hatimu...," sepenggal lirik yang dinyanyikan sang vokalis.
Namun, menurutnya, sebagai seorang yang memerjuangkan kebaikan, dirinya percaya tak ada jalan tertutup dalam pengungkapan kebenaran kejahatan masa lalu.
Sumarsih meyakini jalan terjal ini bisa dilewati.
"Bagi saya tidak pernah ada jalan perjuangan yang tertutup, selalu ada jalan yang bisa kami lewati," kata dia.
Aksi Kamisan konsisten dilakukan tiap pekan. Mereka libur aksi saat hari Kamis bertepatan dengan tanggal merah. Aksi tersebut paling sedikit dihadiri hanya delapan orang.
Dalam laman aksikamisan.net, gelar Aksi Kamisan dengan berdiam diri dipilih, karena “diam” tidaklah berarti telah kehilangan hak-hak sebagai warganegara, dan “berdiri” melambangkan bahwa korban/keluarga korban pelanggaran HAM adalah warganegara yang tetap mampu berdiri untuk menunjukkan bahwa punya hak.
Aksi Kamisan digelar setiap pekan sejak 2007 di seberang Istana. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) |
Dia menginginkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu memenuhi komitmennya dalam menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu.
Mulai dari penembakan mahasiswa serta warga sipil saat Tragedi Semanggi I dan II, Trisakti, kasus penghilangan paksa, kerusuhan 13-14 Mei 1998, penembakan misterius, sampai pembunuhan masal setelah gerakan 30 September 1965.
Tak hanya itu, dia juga meminta Jokowi bisa menghapus impunitas orang-orang yang diduga terlibat dalam pelanggaran berat, yang banyak terjadi di era Soeharto sampai masa transisi reformasi.
"Saya selalu memelihara harapan, di sisa pemerintahan Jokowi dua tahun ini," ujarnya.
Lihat juga:Gerindra Beri Ponten Merah 3 Tahun Jokowi |
Aksi Kamisan digelar setiap pekan sejak 2007 di seberang Istana. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)