“Kalau rakyat tenang dan senang, kita juga bisa terus bekerja untuk rakyat. Karena bekerja untuk rakyat adalah kampanye yang baik,” ujar Jokowi saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-IV Partai NasDem, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (15/11) malam.
Kepada seluruh kader partai yang populer dengan jargon Restorasi ini, Jokowi juga mengingatkan tentang tahun jelang Pemilu 2019 alias tahun politik, dan pentingnya upaya menjaga persatuan dan ketentraman masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kita juga ditinggal kalau tidak cepat-cepat lari, perubahan berpikir, etos kerja,” ucapnya.
“Apa harus nunggu Papua maju baru dibangun? Ini bukan karena yang lain-lain, ini pemerataan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” imbuh dia.
Namun demikian, Jokowi menggaribawahi pentingnya keberanian dalam mengeksekusi kebijakan. Ia mencontohkannya dalam beberapa kasus.
Pertama, upaya untuk mendorong divestasi saham PT Freeport Indonesia hingga sebesar 51 persen. Ia yakin jika pemerintah berusaha keras maka akan menerima hasil baik.
"Berapa puluh tahun kita hanya diberi sembilan persen, diam saja. Saya enggak tahu diamnya karena apa. Apakah takut? Apakah karena diberi sesuatu karena memang saya enggak ngerti?” katanya saat menghadiri Pembukaan Kongres Trisakti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) XX, pada Rabu (15/11), di Graha Gubernuran, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara.
Jokowi saat meninjau proyek jalan di Papua. (Dok. Biro Pers Setpres) |
Ditambahkannya, keberanian Pemerintah juga diuji dalam penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti UU tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) untuk membubarkan ormas yang bertentangan dengan Pancasila seperti Hizbut Tahrir Indonesia.
Keputusan itu mengundang penolakan terutama dari sejumlah ormas keagamaan karena dinilai menjadi alat penyalahgunaan wewenang pemerintah. Namun, Jokowi tak menggubrisnya demi menjaga kesatuan Indonesia.
"Setiap memutuskan, saya yang bertanggung jawab. Ini hak kewenangan yang diberikan kepada saya membuat Perppu. Kalau kebenaran tidak kita lakukan, ya ragu-ragu terus. Kita ini takut terhadap apa enggak ngerti saya, " katanya.
(arh/sur)
Jokowi saat meninjau proyek jalan di Papua. (Dok. Biro Pers Setpres)