Hal tersebut disampaikan Adnan Topan Husodo dalam diskusi buku 'Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia, dari Daendles (1808-1811) sampai Era Reformasi', di Cemara 6 Galeri, Jakarta, Jumat (8/12).
"Buku ini memberikan pelajaran bagi kita, untuk mengatakan sebenarnya secara sarkastik, bahwa kita ini tidak belajar dari pengalaman yang pernah terjadi," kata Adnan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Praktik korupsi Danurejo IV dikatakan Adna serupa dengan yang dilakukan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar pada beberapa 2013 lalu.
Menurut Adnan, selain itu Indonesia juga terjebak pada kesalahan-kesalahan yang sama dalam memberantas korupsi dari era Orde Lama sampai hari ini lantaran pendekatannya selalu sama.
Selain itu, Tim Saber Pungli yang digagas Presiden Joko Widodo juga serupa dengan kebijakan era Presiden Soeharto. Kala itu, Presiden Soeharto membentuk tim untuk mengatasi masalah korupsi yang nilainya kecil.
"Dari berbagai pendekatan tadi rasanya kita belum bisa melangkah lebih maju. Saya kira ini jadi catatan juga, kenapa kita mengulang hal yang sama, bahkan sejak Pangeran diponegoro hidup," tuturnya.
"Saya kira ini sebuah pengalaman yang penting bagi kita untuk kemudian merefleksikan kembali, apa sih sebenarnya faktor utama, kenapa korupsi di negara ini sulit untuk diberantas. Alih-alih diberantas justru makin merajarela," kata Adnan menambahkan.
"Cara mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menghadapi pejabat korup di Pemerintah Provinsi DKI dan menghardik para pengkritik di DPRD tidak jauh berbeda dengan Diponegoro," demikian tulis Carey.
Menurut Carey, salah satu cara yang bisa dilakukan Indonesia dalam menangani masalah korupsi ini adalah lewat pendidikan untuk memperbaiki mental masyarakat. Pasalnya, kata dia, pendidikan di Indonesia, khususnya di tingkat perguruan tinggi, belum bisa membangun mental dan perilaku masyarakat.
"Hubungan yang saya jelaskan antara PNS dan universitas cukup memberikan efek pada output akademis dari unversitas karena banyak orang yang berada di dihasilkan dari proses ini," tuturnya.
"Anda harus memiliki pendidikan yang solid yang bisa menciptakan orang yang kritis dan tidak menghasilkan orang yang membeo sejak usia muda," kata pria berkebangsaan Inggris tersebut. (has)