Aziz merupakan Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Sumatera III dalam struktur kepengurusan Partai Golkar 2016-2019 di bawah pimpinan Setnov.
"Kita bisa lihat (Aziz) die hard-nya lah," kata Yorrys saat ditemui di sela-sela acara Sarasehan Nasional yang diselenggarakan Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG) di salah satu hotel di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (10/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketua fraksi (dan) korbid kepartaian, itu sangkuni-sangkuni (Setnov)," kata Yorrys.
"Aziz cukup dekat dengan Setnov," ujarnya.
Lebih dari itu, Doli menyatakan, langkah Setnov menunjuk Aziz untuk menggantikan dirinya sebagai Ketua DPR, ilegal.
Menurutnya, langkah Setnov itu berpotensi mempermalukan DPR dan Golkar. Dia pun meminta seluruh anggota dewan menolak penunjukkan Aziz sebagai Ketua DPR.
Dia melanjutkan, penunjukkan Aziz sebagai pengganti Setnov merupakan kepentingan segelintir oknum politikus Golkar.
“Karena ilegal, maka patut ditolak dan tidak diteruskan di DPR RI. Menurut saya, harus juga ada gerakan penolakan dari teman-teman anggota DPR,” ujar Doli.
Menurutnya, jumlah kader Golkar yang berada dalam kubu penentang perubahan lebih sedikit dibandingkan pendukung perubahan. Kubu penentang perubahan, kata Doli, memiliki keinginan untuk mempertahankan Setnov, menguasai politik, dan ekonomi.
"Hanya empat sampai lima orang yang ingin pertahankan bersama-sama dengan Setya Novanto, demi kepentingan oligarki, keuntungan politik, kekuasaan, dan ekonomi,” ucapnya.
Setnov dikabarkan mengirim surat perihal pengunduran diri sebagai Ketua DPR dan menunjuk Aziz sebagai penggantinya. Kabar itu telah dibenarkan Ketua Koordinator bidang Kesejahteraan Masyarakat DPP Partai Golkar Roem Kono.
"Memang sudah ada pemberitahuan secara tidak resmi bahwa memang betul bahwa ada surat putusan dari Ketua Umum Setya Novanto menunjuk saudara Aziz," kata Roem di Jakarta, Sabtu (9/12).
Fahri menduga, surat itu belum diterima jajaran pimpinan karena Sekretariat Jenderal DPR sedang libur dalam dua hari terakhir.
"Bentuk fisik belum kami terima, mungkin karena sekretariat masih tutup, mungkin surat sudah diterima tapi tidak buka," kata Fahri dalam pesan suara yang ia kirim kepada wartawan, Minggu (10/12). (djm/djm)