Direktur Eksekutif Paramater Politik Indonesia Adi Prayitno mengungkapkan, harapan Titiek itu bisa jadi kontraproduktif bagi Golkar sendiri. Sebab, keberadaan Titiek tak bisa dilepaskan dari citra Orde Baru dan Keluarga Cendana. Sementara, Orde Baru kadung lekat dengan persoalan korupsi. Dan itu tak beda dengan Novanto.
"Kecuali kalau Golkar mau menggali kuburannya sendiri dengan berspekulasi memilih Titiek sebagai ketua umum," cetus Adi melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Minggu (10/12) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya Titiek punya kans dan bisa jadi kuda hitam atau figur alternatif," ucapnya.
Pangi melihat, ada dua kandidat kuat calon Ketua Umum Partai Golkar. Yakni, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham.
Sementara, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie menyebut, ada enam nama yang diprediksi bakal mencalonkan diri sebagai pengganti Setnov di kursi Ketua Umum. Mereka adalah Airlangga Hartarto, Azis Syamsuddin, Idrus Marham, Priyo Budi Santoso, Wisnu Suwardhono, dan Titiek Soeharto.
Evaluasi Dukungan pada Jokowi
Jika Titiek yang terpilih, lanjut Pangi, pencalonan Jokowi di Pemilu Presiden 2019 kemungkinan akan dievaluasi. Walaupun Golkar masih ingin tetap di dalam pemerintahan, perubahan dukungan itu dimungkinkan akibat dinamika di internal partai yang tinggi. Terlebih, sebagian kader juga ada yang mendukung evaluasi dukungan di Pilpres itu.
"Kalau Titiek menjadi ketua umum Golkar, bukan tidak mungkin peta dukungan Golkar akan berubah," tutur Pangi. "Itu artinya Jokowi belum aman," imbuh dia.
Adi menimpali, potensi perubahan dukungan itu terkait Titiek yang pernah menjadi istri pesaing Jokowi di Pilpres 2014, yakni Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. "Apalagi Titiek memiliki hubungan yang tak biasa dengan Prabowo," tambahnya.
"Ya terserah yang mau nilai bagaimana, emang nyatanya orang-orang (bilang) enakan zaman Orde Baru kan?" klaimnya.
Terlepas dari itu, Titiek siap berkompetisi dengan siapa pun, termasuk dengan Airlangga. Keinginannya untuk maju didasari kondisi partai yang tengah memprihatinkan dan terpuruk.
"Insya Allah (maju). Kami sangat prihatin, saya, keluarga Pak Harto, bersama saudara-saudara saya, kami sangat prihatin apa yang terjadi di Golkar saat ini," tutupnya. (arh/djm)