Memori Perjuangan AM Fatwa

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Kamis, 14/12/2017 09:25 WIB
Memori Perjuangan AM Fatwa CNNIndonesia.com merangkum perjalanan hidup AM Fatwa yang pernah ditahan akibat UU Subversi oleh Orla dan Orba, karier politik, dan kenangannya dengan Pramoedya Ananta Toer. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal DKI Jakarta Andi Mappetahan Fatwa atau lebih dikenal dengan nama singkat AM Fatwa telah tiada hari ini.

Mangkatnya AM Fatwa di usia ke-78 itu diketahui dari putrinya kedua, Dian Islamiaty Fatwa melalui pesan whatsapp yang diterima CNNIndonesia.com.

"Mohon dibukakan pintu maaf dan mudah-mudahan ayah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT," tulis Dian dalam pesan whatsapp tersebut, Kamis (14/12).


Dian menuturkan ayahnya menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 06.25 WIB.

Semasa hidupnya, AM Fatwa dikenal sebagai seorang politikus ulung. Itu dapat dilihat dari serangkaian jabatan politik yang pernah dipegang pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan tersebut.

Selain jabatan anggota DPD hingga hembusan nafas terakhirnya, AM Fatwa pun pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR dan Wakil Ketua MPR.

Ia adalah salah satu pimpinan DPR pada Oktober 1999-Oktober 2004. Selanjutnya pada periode 2004-2009, AM Fatwa menjadi salah satu dari pimpinan MPR.

Sebelumnya, AM Fatwa pun pernah menjadi staf khusus Menteri Agama saat dijabat Tarmizi Taher dan Quraish Shihab.

Dalam dunia politik, AM Fatwa adalah salah seorang deklarator berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN). Dari partai berlambang matahari terbit itulah, AM Fatwa lalu melenggang ke kursi legislatif.

Setelah akhir periode legislatif 2009, pada masa selanjutnya AM Fatwa maju sebagai calon perseorangan untuk menjadi anggota DPD RI. Dan, ia berhasil menjadi seorang senator untuk periode 2009-2014, lalu terpilih kembali untuk periode ini 2014-2019.

Lihat Juga: Putri AM Fatwa Mengabarkan Ayahnya Wafat

Kritis pada Orde Lama dan Orde Baru

Sebelum AM Fatwa meninggal, sosoknya saat muda dikenal sebagai seorang aktivis. Dia merintis jalan 'perjuangan' saat menjadi mahasiswa di IAIN Jakarta pada masa orde lama. Fatwa pun tercatat pernah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat, juga pegurus PB HMI.

AM Fatwa pernah merasa menginap di bui setelah unjuk rasa pada 1963 dengan tuduhan menggerakkan demo mahasiswa dan dijerat dengan UU Subversi.

AM Fatwa menjadi tahanan hingga rezim baru di bawah kendali Soeharto berkuasa. Namun, ketika rezim Orde Baru, Fatwa pun kembali kritis. Lagi-lagi dia setidaknya dua kali terjerembab ke dalam bui dengan tuduhan melanggar UU Subversi.

Puncaknya, pada 1984, pembuatan 'Lembaran Putih' kasus Tanjung Priok telah membuat Fatwa divonis 18 tahun penjara, namun hanya sembilan tahun yang dilalui karena amnesti yang ia terima.

Memori Salat di Rumah Pramoedya Ananta Toer

Pada tengah tahun lalu, AM Fatwa menjadi salah satu sosok nasional yang hadir dalam Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965.

Di sela kegiatan yang mengundang prokontra dalam tataran politik nasional tersebut, CNNIndonesia.com sempat berbincang dengan AM Fatwa. Salah satu perbincangan yang menarik adalah memori Fatwa saat dirinya bermain ke rumah Pramoedya Ananta Toer.

Pram adalah sosok sastrawan yang kemudian menjadi salah satu tahanan politik yang diasingkan ke Pulau Buru oleh Orde Baru terkait PKI.

AM Fatwa mengenang saat itu, sore hari di bulan Ramadan, dirinya mendatangi rumah Pram yang berada di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Saat itu, Pram baru bebas dari tahanan di Pulau Buru, Maluku.

Fatwa tiba menjelang buka puasa. Keluarga Pram menyambutnya. Makanan disuguhkan di atas meja. Istri Pram juga memberi ruang bagi Fatwa untuk melaksanakan ibadah.

"Saya jenguk dia (Pram), saya dijamu makan buka puasa. Saya juga disediakan sajadah untuk salat magrib oleh istrinya," ujar Fatwa kala itu.

Fatwa pun salat di rumah Pram, seorang eks aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) –organisasi kesenian sayap kiri yang dituding tentara terlibat Gerakan 30 September yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat.

"Dia (Pramoedya) tidak ikut salat. Tapi saya yakin istrinya salat meskipun saya tidak lihat," kata Fatwa kala itu.

Fatwa dan Pramoedya lantas larut dalam perbincangan selama dua jam. Tak ada pembicaraan serius soal ideologi atau kebudayaan. Hanya obrolan ringan, kata Fatwa.

Fatwa berkata, saat ia mengajak Pram berdiskusi soal agama, pria kelahiran Blora itu enggan melanjutkan pembicaraan. Ia menghindari bahasa itu.

"Dia bilang, 'Rasanya terlalu luks buat saya bicara soal agama dan akhirat’,” ujar Fatwa menirukan ucapan Pram.

Fatwa pun menutup bahasan soal agama, tak mau berdebat lebih dalam lagi dengan Pram terkait itu.

Kini semua cerita soal politikus senior itu pun menjadi kenangan setelah AM Fatwa meninggal. (djm)