AM Fatwa Mengenang Saat Salat di Rumah Pramoedya Ananta Toer

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Rabu, 20/04/2016 09:05 WIB
AM Fatwa Mengenang Saat Salat di Rumah Pramoedya Ananta Toer AM Fatwa, di sela Simposium 1965, mengenang momennya bersama Pramoedya Ananta Toer. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sore itu, bulan Ramadan, Andi Mappetahang Fatwa datang ke rumah Pramoedya Ananta Toer di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Ketika itu Pram, sapaan Pramoedya, baru bebas dari tahanan di Pulau Buru, Maluku. AM Fatwa datang untuk bertukar pikiran.

Fatwa tiba menjelang buka puasa. Keluarga Pram menyambutnya. Makanan disuguhkan di atas meja. Istri Pram juga memberi ruang bagi Fatwa untuk melaksanakan ibadah.

"Saya jenguk dia (Pram), saya dijamu makan buka puasa. Saya juga disediakan sajadah untuk salat magrib oleh istrinya," kata Fatwa bercerita di sela Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta kemarin.


Fatwa yang alumni Perserikatan Organisasi Pemuda Islam Seluruh Indonesia itu pun salat di rumah Pram, seorang eks aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) –organisasi kesenian sayap kiri yang dituding tentara terlibat Gerakan 30 September yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat.

"Dia (Pramoedya) tidak ikut salat. Tapi saya yakin istrinya salat meskipun saya tidak lihat," kata Fatwa.
Fatwa dan Pramoedya lantas larut dalam perbincangan selama dua jam. Tak ada pembicaraan serius soal ideologi atau kebudayaan. Hanya obrolan ringan, kata Fatwa.

Dalam pertemuan itu, Pram sempat menyinggung hubungan Fatwa dengan Mr Kasman Singodimedjo.

"Dia katakan, saudara ini kader Mr Kasman tapi kelihatannya kualitasnya jauh dari Mr Kasman. Dia bilang begitu kepada saya," ujar Fatwa.

Kasman menjabat sebagai Jaksa Agung periode 1944-1946. Dia juga mantan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Sementara Fatwa pernah menjadi Sekretaris Majelis Hikmah Muhammadiyah yang dipimpin Kasman.

Fatwa mengatakan sengaja datang ke rumah Pram yang notabene eks tahanan politik untuk berdiskusi. Ia mengaku senang bertukar pikiran dengan orang yang berbeda pandangan.

"Saya merasa ada beberapa perbedaan dengan dia soal pandangan hidup, filosofi –tentu saya menghormati dia sebagai seorang penulis," kata Fatwa yang menjabat Wakil Ketua MPR periode 2004-2009.

Fatwa sendiri menghabiskan waktu 12 tahun di penjara atas sikap kritisnya terhadap pemerintah sebelum akhirnya bebas bersyarat.
Fatwa berkata, saat ia mengajak Pram berdiskusi soal agama, pria kelahiran Blora itu enggan melanjutkan pembicaraan. Ia menghindari bahasa itu.

"Dia bilang, 'Rasanya terlalu luks buat saya bicara soal agama dan akhirat’,” ujar Fatwa menirukan ucapan Pram.

Fatwa pun menutup bahasan soal agama, tak mau berdebat lebih dalam lagi dengan Pram terkait itu.

Pramoedya, kata Fatwa, lebih banyak bercerita mengenai pengalamannya ditahan di Pulau Buru. Pramoedya merasa mendapat perlakuan tak adil selama berada di pulau itu.

"Penderitaan dia dan teman-temannya di Pulau Buru saja yang banyak dia ceritakan. Misalnya dia yang menanam pisang, tapi bukan dia yang memetik," ujar Fatwa.

Fatwa menyesal tak sempat melayat saat Pramoedya meninggal dunia. Dia hanya mendengar kabar, kepergian Pramoedya diiringi lagu Internasionale.
(agk)