Fatwa tiba menjelang buka puasa. Keluarga Pram menyambutnya. Makanan disuguhkan di atas meja. Istri Pram juga memberi ruang bagi Fatwa untuk melaksanakan ibadah.
"Saya jenguk dia (Pram), saya dijamu makan buka puasa. Saya juga disediakan sajadah untuk salat magrib oleh istrinya," kata Fatwa bercerita di sela Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia (Pramoedya) tidak ikut salat. Tapi saya yakin istrinya salat meskipun saya tidak lihat," kata Fatwa.
"Dia katakan, saudara ini kader Mr Kasman tapi kelihatannya kualitasnya jauh dari Mr Kasman. Dia bilang begitu kepada saya," ujar Fatwa.
Kasman menjabat sebagai Jaksa Agung periode 1944-1946. Dia juga mantan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Sementara Fatwa pernah menjadi Sekretaris Majelis Hikmah Muhammadiyah yang dipimpin Kasman.
Fatwa mengatakan sengaja datang ke rumah Pram yang notabene eks tahanan politik untuk berdiskusi. Ia mengaku senang bertukar pikiran dengan orang yang berbeda pandangan.
"Saya merasa ada beberapa perbedaan dengan dia soal pandangan hidup, filosofi –tentu saya menghormati dia sebagai seorang penulis," kata Fatwa yang menjabat Wakil Ketua MPR periode 2004-2009.
Fatwa sendiri menghabiskan waktu 12 tahun di penjara atas sikap kritisnya terhadap pemerintah sebelum akhirnya bebas bersyarat.
Baca juga:Mencoba Berdamai dengan Sejarah Kelam |
"Dia bilang, 'Rasanya terlalu luks buat saya bicara soal agama dan akhirat’,” ujar Fatwa menirukan ucapan Pram.
Fatwa pun menutup bahasan soal agama, tak mau berdebat lebih dalam lagi dengan Pram terkait itu.
Pramoedya, kata Fatwa, lebih banyak bercerita mengenai pengalamannya ditahan di Pulau Buru. Pramoedya merasa mendapat perlakuan tak adil selama berada di pulau itu.
"Penderitaan dia dan teman-temannya di Pulau Buru saja yang banyak dia ceritakan. Misalnya dia yang menanam pisang, tapi bukan dia yang memetik," ujar Fatwa.
Fatwa menyesal tak sempat melayat saat Pramoedya meninggal dunia. Dia hanya mendengar kabar, kepergian Pramoedya diiringi lagu Internasionale.
Lihat juga:10 Suara Abadi Pramoedya Ananta Toer |