"Yang saya tahu, setiap perkara besar korupsi selalu ada whistleblower yang jadi ujung tombak awalnya. Artinya, peran informasi darinya sangat signifikan keberadaannya," ujar Novel melalui teleconference saat peluncuran portal IndonesiaLeaks di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (14/12).
Novel mengatakan, banyak pihak yang ingin menjadi whistleblower kasus korupsi. Namun kendalanya, mereka khawatir keselamatan diri dan keluarganya terancam saat memberi keterangan terkait peran sejumlah pihak yang terlibat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Novel bercerita, KPK pernah menghadapi seorang pelapor yang identitasnya sudah dirahasiakan, akan tetapi ia membuka suara melalui media massa dan diketahui identitasnya.
Novel menyebut nama Yulianis yang pernah menyandang status whistleblower selama tiga tahun sejak kasus dugaan korupsi Wisma Atlet ditangani KPK pada 2011. Yulianis menjadi saksi kasus yang menjerat Anas Urbaningrum.
"Kalau sudah seperti itu kita bekerja sama dengan LPSK, tapi sebisa mungkin yang bersangkutan tidak diketahui. Repot kalau malah dia buka suara di publik," ujarnya.
Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group yang juga mantan anak buah Nazarudin, Yulianis, diambil sumpah. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) |
Komitmen memberantas korupsi di Indonesia tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Hal itu juga menjadi tanggung jawab media massa dan organisasi masyarakat sipil.
Sepuluh media massa dan lima organisasi masyarakat sipil menjalin kerja sama dalam penyediaan platform digital indonesialeaks.id bagi para whistleblower. Kesepuluh media itu adalah CNN Indonesia, Sindo Weekly, Liputan 6, The Jakarta Post, KBR, Tempo, Suara.com, Jaring, Bisnis Indonesia, dan Independen.id.
Melalui platform tersebut, nantinya para whistleblower diharapkan dapat memberikan data atau dokumen terkait kasus dugaan korupsi secara aman untuk kepentingan investigasi jurnalistik secara kolaborasi. Data yang dikirim tiap informan, selanjutnya akan diverifikasi oleh media massa tersebut.
Direktur Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (Jaring) Eni Mulia menilai Indonesialeaks.id merupakan terobosan untuk mendorong tata kelola pemerintahan yang baik dalam pemberantasan korupsi.
"Nantinya kerja sama antarmedia dan profesionalisme dalam penggarapan laporan jurnalisme investigasi dalam membongkar kasus korupsi," kata Eni dalam keterangan tertulis.
Direktur LBH Pers Nawawi Baharudin menilai, selama ini perlindungan kepada informan/pelapor yang membocorkan informasi penting terkait dugaan korupsi di Indonesia masih sangat minim.
"Kebanyakan dari whistleblower yang berani, justru akan berhadapan dengan pidana bahkan persekusi," ujarnya.
Selain itu, platform indonesialeaks.id akan meningkatkan kualitas informasi melalui jurnalisme investigasi dengan peliputan yang mendalam dan komprehensif.
"Melalui inisiatif ini, LBH Pers mendukung dan melibatkan diri dalam kerja yang penuh tantangan ini," tambahnya. (pmg/djm)
