Sosok yang menjadi ketum setelah terpilih dalam Munaslub pada Desember lalu itu menyebut, kader Golkar pengganti Setya Novanto sebagai ketua DPR akan ditentukan pada masa sidang DPR tahun 2018.
Di sisi lain, peta calon ketua DPR saat ini masih diisi tiga nama yang memang sudah beredar semenjak Setnov dijebloskan ke penjara KPK akibat belitan kasus korupsi proyek e-KTP. Tiga kader itu adalah Sekretaris Fraksi Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK), Ketua Komisi III Bambang Soesatyo, dan Ketua Badan Anggaran DPR Azis Syamsuddin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ray menuturkan, indikator utama yang harus diperhatikan saat menunjuk pengganti Setnov adalah bebas dari kasus tindak pidana korupsi. Menurutnya, perkara korupsi merupakan citra yang melekat di partai berlambang pohon beringin tersebut.
Airlangga Hartarto. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto) |
Ia melihat, kader yang mendukung atau menjadi bagian dari pansus tersebut dianggap mempersulit pemulihan citra Golkar di mata publik ke depan. Keberadaan pansus angket, kata Ray, telah menimbulkan polemik serius di masyarakat dalam hal mendukung pemberantasan korupsi, dan tidak sejalan dengan jargon ‘Golkar Bersih’ yang digagas Airlangga.
“Ketua DPR [pilihan Golkar] sebaiknya bukan orang yang menginisiasi atau terlibat aktif di dalam pansus KPK,” ujar Ray.
Dilihat dari kriteria yang pantas jadi pertimbangan Airlangga, menurut Ray, nama AGK lah yang paling baik guna mengganti Setnov di kursi kepemimpinan DPR.
AGK, kata Ray, dikenal sebagai kader Golkar di DPR yang tidak terlibat dalam Pansus Angket KPK. Hal itu membuat AGK dianggap tidak memiliki beban moral yang nantinya dapat menimbulkan polemik bagi Golkar ke depan.
“Dari kriteria itu cocokan saja dengan nama-nama yang muncul. Nah kalau melihat yang paling berpotensi adalah Agus Gumiwang,” ujar Ray.
Ray menambahkan, faktor pengalaman memimpin dan jaringan AGK bukan indikator krusial yang diperdebatkan. Selain dapat terbangun dengan sendirinya ketika menjabat ketua DPR, kedua faktor tersebut tidak lebih penting dari keberpihakan terhadap pemberantasan korupsi untuk memulihkan citra Golkar.
Sementara itu, pengamat politik LSI Ardian Sopa menyatakan, calon yang layak menjadi Ketua DPR adalah sosok yang sudah lebih dari satu kali menjadi anggota DPR. Ia menilai, periode keterpilihan itu membuat sang calon memiliki pengalaman untuk memimpin DPR.
“Yang menjadi Ketua DPR ini harus orang yang sudah pengalaman. Dalam artian bukan sekali menjadi anggota DPR tetapi sudah beberapa periode,” ujar Ardian kepada CNNIndonesia.com.
Lihat juga:KPK Optimistis Hakim Tolak Eksepsi Setnov |
“Orang menduduki Ketua DPR juga harus orang yang bersih dari masalah hukum. Baik yang sudah tercatat maupun yang isu-isunya ya. Jadi bersih hukum dan personalnya,” ujarnya.
Lebih dari itu, Ardian enggan menebak siapa yang akan terpilih sebagai pengganti Setnov. Namun, ia menilai, Golkar bisa mengambil terobosan dengan menunjuk kader mudanya, yakni AGK atau Azis sebagai Ketua DPR.
Kader muda, kata dia, juga merupakan reperesentasi dari agenda reformasi yang tengah terjadi tubuh Golkar dan DPR di tahun baru 2018.
“Siapa pun yang dipilih sebenarnya tidak jadi masalah. Tapi ketua itu merepresentasikan seluruhnya. Sekarang ini lagi trennya semangat baru kemudian semangat muda. Jadi istilahnya memberi kesempatan kepada yang muda untuk lebih berkiprah,” ujar Ardian. (kid/djm)
Airlangga Hartarto. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)