Yoko Sari
Mengawali karir sebagai wartawan di harian The Jakarta Post, meniti karirnya lebih lanjut di BBC Indonesia. Kini menjadi pemimpin redaksi cnnindonesia.com

Hari Pers Nasional

Jurnalisme Daring, Antara Traffic dan Etik

Yoko Sari, CNN Indonesia | Jumat, 09/02/2018 10:05 WIB
Jurnalisme Daring, Antara <i>Traffic</i> dan Etik Ilustrasi. (CNN Indonesia/Fajrian diolah dari Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Artikel berjudul Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths karya John McBeth mengkritik Presiden Joko Widodo yang menggembar-gemborkan keberhasilan pemerintahnya tanpa ada bukti nyata.

Singkatnya, sebagian besar proyek atau program pemerintah tidak berjalan dan klaim keberhasilan hanyalah omong kosong.

Artikel yang diterbitkan Asian Times itu menyebut "kebohongan" pemerintah Jokowi didukung oleh media di Indonesia yang cenderung hanya menerima data dan informasi yang diterima oleh "spin doctors" pemerintah tanpa melakukan pengecekan mandiri.

Tudingan itu pun dijawab oleh wartawan senior Goenawan Muhammad yang membela media Indonesia.

Jika ditilik lebih dalam lagi dan kita mau bersikap jujur, tudingan McBeth terhadap media di Indonesia ada benarnya, meski tidak semua.

Sebagai wartawan, saya dan mungkin juga rekan-rekan jurnalis yang sudah berkarir sejak zaman Orde Baru atau jauh sebelum itu, tentunya kini sering terjebak dalam romantisme era ketika jurnalisme masih didominasi oleh tujuan dasar sebagai salah satu kelompok penyeimbang.

Akan tetapi kita harus menerima kenyataan bahwa ada perubahan mendasar di dunia media Indonesia.

Media digital kini menjadi yang terdepan, menggantikan media cetak yang sudah berada di ujung jalan penghabisan.

Tanya saja pada generasi muda, apakah mereka masih membaca koran? Jawabannya hampir pasti tidak.

Perubahan dari dunia cetak ke digital, untuk industri media, tidak diikuti dengan dasar standar jurnalistik yang bisa dibilang lebih mendarah daging di media cetak.

Selain itu juga tidak ada program pelatihan yang tertata rapi untuk para jurnalis media daring seperti pada media cetak.

Sebagian besar dari 20 tahun karier saya sebagai jurnalis dihabiskan di Inggris, tepatnya 14 tahun. Sementara, tiga tahun pertama karier saya adalah di salah satu media cetak di Indonesia yang menanamkan standar dan kode etik jurnalistik yang tinggi.

Tiga tahun terakhir ini saya bergabung dengan CNNIndonesia.com, setelah tiga tahun "pensiun".

Ketika mulai kembali bekerja, saya sempat terkejut dengan pandangan dan cara kerja jurnalis di Indonesia.

Sebagian besar jurnalis yang sudah berpengalaman dua-tiga tahun tidak mengerti atau tidak memandang perlu untuk mencari data atau informasi sebagai penyeimbang dari keterangan satu narasumber, swasta atau pemerintah.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah jurnalis dengan pengalaman lebih dari lima tahun, dengan posisi sebagai asisten redaktur dan redaktur, memiliki pandangan yang sama.

Pandangan yang bertolak belakang dengan teori dasar dan praktik yang diajarkan dan diharuskan oleh media tempat saya mengawali karier dan media asing tempat saya bekerja selama 14 tahun.

Situasi ini tidak hanya terjadi di media tempat saya bekerja sekarang, tetapi hampir di semua media digital di Indonesia.

Silahkan lihat berita-berita yang diunggah. Meski tidak semua, hampir sebagian memuat informasi dan data satu sisi tanpa ada upaya membuat berita lanjutan yang berisi pembenaran atau sanggahan.

John McBeth benar dalam hal ini. Semua pernyataan kini dianggap satu kebenaran. Jika pejabat A mengatakan B, itulah kebenaran hakiki.

Ada dua hal yang membuat media di Indonesia menjadi demikian.

Media digital di Indonesia berbeda dari media digital luar negeri.

Di sini kecepatan merupakan nilai mutlak. Siapa yang paling cepat mengunggah, dia yang akan mendapat traffic paling besar karena netizen melakukan share berita itu.

Traffic adalah hak mutlak dari media digital di Indonesia karena merupakan daya tarik utama dalam mendapatkan iklan. Setidaknya itu yang terus-menerus didengungkan oleh tim bisnis.

Traffic jeblok, iklan jeblok, kesehatan perusahaan pun jeblok.

Jurnalis tidak memiliki, atau tidak diberi waktu, untuk membuat satu berita utuh seperti pada media konvensional.

Setiap detik adalah tenggat waktu. Bukan dalam hitungan jam atau hari.

Persoalan kuantitas berita menjadi penyebab penurunan kualitas berita yang ditulis. Sebagai contoh, asisten redaktur dan redaktur di kantor, setelah mengedit, dengan secepat mungkin, sudah banyak berita lain yang menunggu untuk diedit sebelum diunggah.

Teori probabilitas bermain di sini, banyak pihak pecaya semakin banyak berita yang diunggah semakin besar kemungkinan orang membaca lebih banyak. Lagi-lagi persoalan traffic.

Satu pandangan yang tidak terbukti jika kita melihat dan mempelajari data dengan benar.

Persoalan lain adalah kekhawatiran media tidak "dekat" dengan narasumber.

Dalam konteks artikel John McBeth, jurnalis bisa disebutkan tidak "dekat" dengan pejabat pemerintah jika menulis artikel yang seimbang. Akses pun dibatasi, membuat jaringan pun sulit.

CNNIndonesia.com mencoba berbeda dengan media digital di Indonesia pada umumnya, meski masih sering juga mengunggah berita dengan satu narasumber.

Kami tidak mengejar kecepatan, tetapi akurasi dan berita yang berimbang.

Akibat yang diterima adalah ada beberapa pejabat pemerintah yang menganggap kami kurang bisa diajak kerja sama, atau perusahaan swasta yang memprotes berita negatif meskipun itu merupakan berita dari pihak berwenang. Kami bahkan sempat dituduh dibayar oleh "lawan".

Ini semua semata-mata karena saya meminta jurnalis untuk menyeimbangkan pernyataan seorang narasumber ke stake holders lingkup kerja dan hasilnya berupa bantahan.

Ini juga terjadi dengan kelompok-kelompok tertentu yang tidak suka jika ada berita yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan mereka, meskipun berita itu berisi pernyataan langsung tokoh yang mereka usung.

Persekusi wartawan di media sosial sudah terjadi pada salah satu staf redaksi.

Komentar menghujat dan cap sebagai media yang berpihak sudah kami rasakan.

Semua itu demi menjadi media penyebar informasi yang berimbang, tidak sekadar sebagai juru bicara pihak tertentu. Demi menciptakan generasi jurnalis yang bisa menggunakan akal dan pengetahuan dalam menulis berita.

Ganjaran yang harus diterima oleh media yang netral, tidak memihak siapapun.

Ini adalah satu kenyataan.

Jika kita sebagai jurnalis, dan media, tidak bisa menerima kritik yang dilontarkan oleh sesama jurnalis (asing atau lokal), kita sudah bersikap sama dengan narasumber yang hanya ingin membaca, mendengar, atau melihat kabar positif.

Sejarah telah memperlihatkan kepada kita semua bahwa jika semua elemen, termasuk media, tidak bersikap kritis yang tercipta adalah kesewenangan. Pemerintah maupun dunia usaha.

Di samping itu, pekerjaan ini akan menjadi sangat membosankan jika jurnalis hanya bertugas sebagai corong dari narasumber. (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS