"Modus dengan [kartu] ATM ini memang sekarang menjadi model yang baru karena mereka bisa lebih nyaman tidak perlu bawa bawa uang," kata dia, di gedung KPK, Jakarta, Senin (12/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suap terhadap Marianus yang dilakukan melalui kartu ATM terjadi pada pada Desember 2017. Yakni, berupa transfer Rp2 miliar di rekening WIU yang ada di tangan MSA. Total suap kepada Marianus sebesar Rp4,1 miliar. Sisanya diberikan secara tunai.
"ATM ini nyaman. Kalau miliaran harus bawa koper dan mudah dideteksi. Setiap saat modus para pelaku tindak pidana korupsi pasti akan berkembang," jelasnya.
Bupati Ngada, NTT, yang juga calon Gubernur NTT Marianus Sae sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait sejumlah proyek di Kabupaten Ngada.
Marianus sendiri diduga menerima suap senilai Rp4,1 miliar dan menjanjikan pemberian proyek kepada WIU senilai Rp 54 miliar.
Sementara Wilhemus dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau b, atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang 20 Tahun 2001.
Marianus dan Wilhemus jadi tersangka usai KPK melakukan OTT di Surabaya (Jawa Timur) serta di Bajawa dan Kupang (NTT), Minggu (11/2). Dalam OTT itu, selain Marianus dan Wilhemus, KPK juga turut mengamankan tiga orang lainnya.
Suap itu terkait proyek pekerjaan pengerukan alur Pelabuhan Pulang Pisau Kalimantan Tengah tahun 2016 dan pekerjaan pengerukan alur pelayaran Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, 2016.
(arh/gil)