Menurut Adriana, salah satu momentum terbesar yang mengindikasi defisitnya demokrasi di Indonesia adalah Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Pesta demokrasi yang seharusnya menjadi ajang kompetisi program, malah disalahgunakan sebagai lapangan politik identitas.
"Ketika kita tidak sadar bahwa kita hidup dalam keberagaman, kemudian kita memakai identitas sebagai alat politik kita untuk menang (pemilu), menurut saya itu sebuah kesalahan dalam memahami prinsip demokrasi. Pelakunya para elit politik, yang menjadi korban kan masyarakat," ujarnya pada CNNIndonesia.com, Senin (19/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia menjelaskan bagaimana rakyat menjadi tidak percaya lagi pada demokrasi, dan mulai mencari alternatif lain yang sesuai dengan idealismenya. Di situlah radikalisme muncul, berawal dari penolakan terhadap sistem yang berlaku, dan keinginan untuk mengubah sistem tersebut.
"Ini adalah sebuah ancaman terhadap bangsa ini, dan sifatnya jangka panjang," tegasnya.
Oleh karena itu, perlawanan terhadap kelompok radikal harus dilakukan secara masif dan menyeluruh. Adriana menyebutkan beberapa strategi seperti perlunya pendidikan politik, mengevaluasi konten lembaga pendidikan, mengontrol lembaga agama, sampai pemantauan di tahap keluarga.
"Di setiap lini dan institusi di mana orang bisa dijadikan radikal, itu semua harus dimasuki," katanya. (eks/reb)