KRuHA menilai tak hanya kerusakan lingkungan yang berakibat pada menurunnya permukaan tanah DKI, tetapi juga berakibat pada gangguan ekosistem dan kesehatan bagi pengguna langsung air tanah ini.
"Kami lihat air tanah DKI itu tidak benar-benar bisa dikonsumsi, bisa saja dalam air itu ada bakteri e-coli yang jelas berbahaya," kata staf riset dari KRuHA Sigit Karyadi Budiono kepada CNNIndonesia.com di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (14/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi seperti diketahui, penggunaan air tanah ini banyak dicurangi dan dilakukan oleh gedung-gedung tinggi seperti perhotelan.
"Jadi tidak hanya 'kami larang' tapi perlihatkan dan sekalian saja buat aturan tegas yang bisa langsung dijalankan," lanjut Sigit.
Tak Hanya Larang Tapi Rawat
KRuHA juga menilai maraknya penggunaan air tanah di DKI ini karena minimnya air permukaan atau air komersil yang bisa digunakan oleh para pengusaha maupun warga masyarakat.
Padahal, kata dia, di Indonesia khususnya Jakarta sudah semestinya pengolahan air dilakukan dengan gencar.
"Air itu jenisnya banyak, tidak mungkin kita semua ini kekurangan air kalau tahu cara kelolanya, tak perlu hanya pakai air tanah," kata Sigit.
"Saya yakin hotel itu punya alat untuk tampung dan olah air hujan. Di samping itu pemerintah juga bisa bersihkan, rawat seberaih-bersihnya danau atau sungai di Jakarta agar airnya bisa digunakan," kata Sigit. (osc/gil)