Novel Ghost Fleet, Rujukan Indonesia Bubar 2030 versi Prabowo

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 13:43 WIB
Novel Ghost Fleet, Rujukan Indonesia Bubar 2030 versi Prabowo Indonesia dua kali menyinggung soal Indonesia bubar pada 2030. Ia merujuk pada sebuah novel asing. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernyataan Indonesia bubar di tahun 2030 ternyata bukan sekali dinyatakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Selain dalam pidato dalam acara "Konferensi Nasional dan Temu Kader", Prabowo juga pernah menyebut Indonesia Bubar di 2030 dalam acara bedah buku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada 18 September 2017 lalu.

Dalam rekaman video yang diunggah akun Gerindra TV di Youtube, Prabowo mengatakan dalam novel berjudul Ghost Fleet yang ditulis dua ahli strategi Amerika Serikat, digambarkan sebuah perang antara Amerika Serikat melawan China di tahun 2030.

Menurut Prabowo, dalam buku tersebut tertulis, Republik Indonesia di tahun 2030 sudah tidak ada lagi.


"Ghost Fleet ini novel, tapi ditulis dua ahli strategi dari Amerika, menggambarkan sebuah skenario perang antara China dan Amerika tahun 2030. Yang menarik dari sini bagi kita hanya satu. Mereka ramalkan tahun 2030, Republik Indonesia sudah tidak ada lagi," kata Prabowo.
Novel fiksi Ghost Fleet sendiri merupakan karya dari pengamat politik dan kebijakan ternama asal Amerika Serikat, Peter Warren Singer dan August Cole. Judul asli novel tersebut adalah Ghost Fleet: a Novel of The Next World War. Terbit pertama kali di Amerika Serikat pada 2015 lalu dengan lebih dari 400 halaman.

Novel ini menjadi perhatian serius bagi petinggi militer Amerika Serikat. Pensiunan Laksamana James G Stavridis menyebut buku ini sebagai blue print untuk memahami peperangan di masa depan. Stavridis, yang kini menjabat sebagai dekan di fakultas Hubungan Internasional Tufts University, mewajibkan pimpinan militer untuk membaca novel tersebut.
Prabowo menyatakan dalam sebuah novel fiksi disebutkan Indonesia tidak ada lagi pada tahun 2030. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Ghost Fleet sendiri lebih banyak menggambarkan perang antara China dan Amerika Serikat pada tahun 2030 ketimbang sebab musabab Indonesia tidak lagi eksis.

Singer menggambarkan situasi perang modern ketika pesawat tanpa awak (drone) mendominasi angkatan udara kedua belah pihak. Perang juga melanda sistem informasi tingkat tinggi, dan cakupannya bukan hanya peretasan situs internet, melainkan satelit yang memantau bagian permukaan bumi.

Singer juga menceritakan China yang mengalami kemajuan pesat. Di samping lebih kaya dari AS, China juga mampu menciptakan persenjataan yang sangat canggih. Kelompok komunis China pun digambarkan sudah tidak memiliki pengaruh dan telah usang. China dipimpin oleh kelompok baru yang disebut sebagai Directorate. 

Directorate merupakan elit gabungan antara kelas pengusaha kelas kakap dan para pimpinan tentara. Kelompok ini menggantikan pemimpin partai komunis yang segera dilupakan.


Tidak Ada Penjelasan Penyebab Indonesia Bubar

Kata 'Indonesia' memang disebut dalam Ghost Fleet, namun hanya tujuh kali di enam halaman dari 400 lebih halaman yang ada.

Indonesia yang sudah tidak lagi eksis disinggung pertama kali pada Bagian I halaman 13. Singer dan Cole menuliskan kata 'former Republic of Indonesia' atau bekas Republik Indonesia. Akan tetapi, Indonesia yang sudah tidak lagi eksis hanya diceritakan sebatas cerita pembuka dan hanya satu kalimat saja.

Tidak dijelaskan secara rinci sebab musabab Indonesia sudah tidak lagi eksis. Singer hanya menyebut Indonesia sudah tidak ada pasca-terjadinya Perang Timor kedua.

"Kanal sepanjang enam ratus mil antara Republik Indonesia dan Malaysia kurang dari dua mil lebarnya pada jarak tersempit, hampir memisahkan masyarakat otoriter Malaysia dari anarki di mana Indonesia tenggelam ke dalamnya setelah perang Timor kedua," seperti ditulis dalam novel tersebut.

Penggambaran Indonesia itu tertulis saat Komandan Kapal USS Coronado, Jamie Simmons tengah berada di Selat Malaka. Simmons sempat mengatakan dalam novel itu bahwa lebih dari separuh kapal dunia melintas di Selat Malaka.

Indonesia kembali disinggung pada halaman 19 dalam kalimat yang diucapkan salah satu tokoh dalam novel, General Wu Liao. Wu mengatakan hal tersebut saat berada di Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beijing, China.

"Latihan bersama China-AS untuk membantu membawa perintah ke perairan di sekitar bekas Republik Indonesia, merupakan pertanda kita akan menjadi yang paling kuat di masa depan," kata Jenderal Wu di novel itu.

Kemudian pada halaman 29, wilayah bekas Indonesia kembali disebut. Kali ini oleh Laksamana Wang yang tengah merencanakan strategi mempertahankan wilayahnya.

Wilayah bekas Indonesia disebut-sebut menyimpan cadangan energi. Karenanya, China berupaya menghalau AS masuk wilayah yang salah satunya adalah 'bekas' Indonesia.

Meski begitu, Indonesia hanya disebut secara sepintas saja.

"Meskipun mereka (Amerika) tidak lagi membutuhkan sumber energi asing yang pernah diraih dan rasakan, kita masih harus menanggung gangguan mereka dalam kepentingan kita di Transjordan, Venezuela, Sudan, Uni Emirat Arab dan bekas Indonesia," kata Wang.

Kemudian pada halaman 62, bekas wilayah Indonesia disinggung kembali. Sama seperti sebelumnya, Indonesia hanya disebut sambil lalu. Tidak ada kalimat yang menggambarkan kondisi Indonesia secara rinci saat Amerika Serikat dan China terlibat perang di 2030.

"Drone listrik V1000 milik Direktorat (China) sebenarnya telah digunakan untuk berbagi data kepada sistem komersial, tapi kelincahan dan kemampuan menghilang menjadikannya pilihan bagi China untuk misi penyerangan di Afrika dan bekas Republik Indonesia," seperti dikutip novel tersebut.

Singer, dalam Ghost Fleet di halaman 119, sempat menyindir Indonesia meski Indonesia sendiri sudah tidak ada dalam novel yang ditulisnya. Sindiran itu tertulis saat Singer menggambarkan suasana pelabuhan galangan kapal Zumwalt dari pandangan seorang tokoh bernama Jamie Simmons.

Simmons melihat pelabuhan Zumwalt tampak seperti sesuatu yang telah hancur dan mengapung di perairan. Zumwalt yang telah hancur juga dinampak seperti puing-puing kota terapung yang pernah ada di Indonesia, yang mana orang-orang menenun logam, plastik, dan kayu yang semestinya mustahil menjadi rumah.

"From the water right now, Jamie Simmons thought the Zumwalt looked less like floating death and more like one of those ramshackle floating tidal towns off what used to be Indonesia, people weaving sheets of metal, plastic, and wood into improbable geometries to create homes."
[Gambas:Youtube]
(sur)