Hasto mengatakan bahwa PDIP memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi setiap tahapan dalam pemilu. Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa PDIP senantiasa menjaring tokoh-tokoh untuk menjadi pemimpin melalui proses yang panjang.
"Tidak sekadar menyampaikan daftar yang kemudian hanya untuk mendapatkan efek elektoral," kata Hasto di kantor DPP PPP, Jakarta, kemarin malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjut Hasto, PDIP pun memperhatikan betul kemampuan dari setiap tokoh sebelum dimajukan sebagai pemimpin, baik sebagai cawapres maupun calon menteri. Kriteria yang dipertimbangkan oleh PDIP adalah jiwa kepemimpinan, profesionalitas, serta kapasitas berorganisasi.
"Ada waktunya kami mengusulkan siapa yang akan mendampingi Jokowi," imbuh Hasto.
Tidak tanggung-tanggung, PSI mengusulkan 12 nama sekaligus. Mereka adalah Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, pendiri CT Corp Chairul Tanjung, mantan Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Staf Presiden Moeldoko.
Nama lain adalah mantan Ketua MK Mahfud MD, pengusaha Rusdi Kirana, Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, hingga CEO Gojek Indonesia Nadiem Makariem.
Di samping mengusulkan cawapres, PSI mengajukan sejumlah nama kepada Jokowi sebagai calon menteri pada periode 2019-2024 mendatang.
Selain itu, PSI mengusulkan sejumlah nama untuk mengisi jabatan kepala non kementerian mulai dari politikus PDIP Maruarar Sirait untuk Kepala Staf Presiden hingga hakim agung Artidjo Alkostar untuk jaksa agung. (wis)