Dia tak menampik bahwa sejumlah titik di kawasan pesisir Jakarta itu masih belum terinstalasi pipa air bersih. Alhasil, warga terpaksa mengambil air tanah untuk memenuhi kebutuhan.
Hal ini disampaikan Anies kepada Wali Kota Jakarta Utara Husein Murad agar segera melakukan pipanisasi air bersih di wilayahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selasa (27/3) kemarin, hujan deras hingga jelang sore mengakibatkan sejumlah wilayah di Jakarta Utara seperti Tanjung Priok, Jalan Danau Sunter, dan Jalan RE Martadinata tergenang hingga 30 centimeter (cm). Anies memperkirakan penyebab genangan adalah permukaan tanah di Jakarta Utara yang secara umum menurun 20 cm per tahun.
Menurutnya, langkah yang harus dilakukan saat ini, baik dari pemerintah maupun masyarakat, yakni mengurangi pengambilan air tanah dan mengembalikan air ke dalam tanah secara masif. Sebab, penurunan permukaan tanah disebabkan salah satunya penggunaan air tanah secara besar-besaran selama bertahun-tahun.
"Konsekuensinya, ketika permukaan air laut meninggi, maka airnya masuk. Ini bukan semata-mata karena air pasang, tetapi juga air pasang dan permukaan tanah yang turun," kata Anies.
Hasil Sidak Air Tanah
Mengenai penggunaan air tanah ini, Pemprov DKI sudah melakukan sidak ke sejumlah gedung-gedung. Namun, sampai hari ini, Pemprov DKI belum juga mengumumkan nama-nama gedung dan pengelolanya yang turut diduga melakukan pelanggaran dalam penggunaan air tanah.
Pengumuman di hadapan publik diharapkan Anies dapat memberikan sanksi sosial dan efek jera bagi pelanggar.
"Kalau yang sekarang kita lakukan, kita akan umumkan. Kita umumkan sehingga ada tekanan dari masyarakat," ujar Anies tanpa menjelaskan kapan akan mengumumkan nama-nama itu. (osc)