Hal itu terungkap dalam presentasi berjudul 'Hasil Riset Oligarki Ekonomi' yang dirilis Megawati Institute pada Desember 2017. Dalam riset tersebut dipaparkan bahwa pertumbuhan kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia empat kali lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Diketahui, Presiden SBY memimpin selama dua periode yakni 2004-2009 dan 2009-2014. Sedangkan penggantinya, Presiden Jokowi mulai memimpin pada Oktober 2014 hingga 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, riset tersebut juga mengungkapkan laju pertumbuhan kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia itu mencapai empat kali lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional, yakni 23 persen berbanding 6 persen.
"Dalam 10 tahun, kekayaan satu orang terkaya di Indonesia melonjak hingga 510 persen," kata riset tersebut.
Penguasaan Aset
Isu penguasaan aset oleh kelompok tertentu di Indonesia mencuat ketika politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais melontarkan kritik terhadap pemerintahan Jokowi pada 18 Maret lalu.
Dia menuturkan bagi-bagi sertifikat tanah ala Jokowi merupakan kebohongan semata dibandingkan dengan penguasaan tanah sebenarnya oleh golongan tertentu.
Ilustrasi pembagian sertifikat tanah. (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) |
Di sisi lain, riset Greenomics Indonesia tentang lahan mengingatkan Amin Rais soal Zulkifli Hasan yang menjabat sebagai Menteri Kehutanan periode 2009-2014.
Zulhas, panggilan Zulkifli, justru memberikan izin lahan kawasan hutan untuk sawit dengan luas mencapai 1,64 juta hektare. Angka itu dinilai 25 kali lebih luas dibandingkan dengan luas DKI Jakarta yang hanya 66.000 hektare.
Zulhas saat menjabat sebagai Menteri Kehutanan periode 2009-2014 juga adalah Sekretaris Jenderal PAN.
Data ketimpangan juga dikonfirmasi oleh riset Bank Dunia berjudul 'Ketimpangan yang Semakin Lebar' pada 2015. Ketimpangan yang melebar dalam sepuluh tahun terakhir, demikian Bank Dunia, ikut didorong oleh tingginya konsentrasi kekayaan sebagian kecil orang di Indonesia.
Lebih tepatnya, kata lembaga itu, satu persen rumah tangga menguasai 50 persen kekayaan dari Sabang sampai Merauke.
Ketimpangan Tinggi
Dalam survei 2014, Bank Dunia menyebutkan bahwa orang Indonesia berpikir ketimpangan kini sudah terlalu tinggi. Sekitar 47 pesen responden juga menyatakan kondisi tersebut 'sangat mendesak' untuk segera dituntaskan oleh pemerintah.
"Sementara pilar ketiga yakni peningkatan kapasitas sumber daya manusia, ditargetkan untuk menyelesaikan isu vokasional, kewirausahaan dan pasar tenaga kerja," demikian keterangan Sekretaris Kabinet. (arh)
Ilustrasi pembagian sertifikat tanah. (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)