Warga Palangkaraya, Hendrik Marcus di kawasan pemakaman pada Sabtu (31/3) malam pengatakan dia bersama keluarga tak hanya melakukan ziarah tetapi juga bermalam di lokasi pemakaman.
"Setiap tahun saat perayaan Paskah selain ziarah, kami menginap di sini. Kami baru kembali ke rumah pada pagi hari," kata bapak satu anak ini seperti dilansir Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Hendrik mengaku tidak mengetahui kapan, di mana, dan siapa yang memulai tradisi.
"Saya juga tidak tahu soal awal mula bermalam di makam ini dilaksanakan karena sejak saya kecil kegiatan ini sudah berlangsung," ujar Dedy Anwar, warga Palangkaraya lain.
Meski demikian Dedy mengaku tetap senang dan ikhlas melaksanakan acara tersebut karena dinilai bermanfaat untuk terus mengingat sanak keluarga yang telah mendahului.
Kawasan yang biasanya gelap pun menjadi terang benderang oleh cahaya lilin yang dinyalakan di setiap makam. Tak ada kesan menyeramkan di area itu.
Keramaian di kawasan itu tak hanya terjadi di dalam area pemakaman. Akses jalan masuk hingga jalan raya yang letaknya berada tepat di depan pemakaman pun terjadi kemacetan.
Di area kiri dan kanan jalan menuju pemakaman, sejumlah pedagang bunga, pedagang makanan dan minuman bahkan mainan menjajakan dagangannya.
Aparat keamanan seperti polisi terlihat sibuk melakukan pengamanan termasuk mengatur lalu lintas jalan di sekitar makam yang tersendat. (wis)