Hal ini diceritakan Anggiat saat bersaksi untuk sidang terdakwa dalang serangan bom Thamrin, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (17/4).
Saat itu, Anggiat mengatakan tengah pulang dari ibadah pada siang hari. Jemaat dan pendeta sedang bersalaman dan terjadi ledakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kejadian ini, kata Anggiat, terjadi tepat di depan teras gereja. Melihat anaknya terbakar, sontak Anggiat langsung membawa ke Rumah Sakit Abdul Muis, Samarinda.
Anggiat sempat melambat saat menceritakan anaknya. Namun, Ketua Majelis Hakim Akhmad Jaini memastikan Anggiat bahwa kesaksiannya demi kebenaran hukum.
"Yang tiga lagi dibawa ke RS yang sama. Setahu saya mereka masih dalam perawatan," ujar dia.
Total ada empat anak yang menjadi korban dalam bom Samarinda dua tahun lalu. Mereka adalah Intan Marbun (2,5), Triniti Hutahayan (4), Alfaro Sinaga (5) dan Anita (4).
Jaksa menduga Aman Abdurrahman alias Oman Rochman terlibat dalam aksi serangan bom Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Aman merupakan terdakwa kasus terorisme di lima lokasi di Indonesia.
Pada 27 Maret 2017, dalam kesaksiannya, Sugito di PN Jakarta Selatan mengatakan sering merakit bom untuk persiapan akhir zaman. Pemahaman itu diperolehnya setelah mendengar sejumlah ceramah Aman. (wis)