"Sipil Mas Jokowi ini, tapi pikirannya otoriter," kata Amien saat ditemui di kediamannya, Jakarta, Kamis (19/4).
Pernyataan itu menjawab pertanyaan terkait posisinya sebagai tokoh reformasi '98 yang dekat dengan Prabowo dibandingkan tokoh sipil seperti Jokowi. Prabowo merupakan tokoh militer dan pernah menjadi bagian Keluarga Cendana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amien menyebut indikasi Jokowi otoriter dinilai dari wacana calon tunggal pada pilpres 2019.
"Ini bahaya, destruksi demokrasi. Kalau sampai betul-betul terjadi, sudah, innalillahi. Oposisi dibungkam, diberangus, itu berat. Sosok sipil justru lebih militer," tuturnya.
"Lihat orang militer lebih sipil. Seperti [eks Presiden Prancis Charles] de Gaulle, [mantan Presiden AS Dwight] Eisenhower. Kurang militer apa [muasalnya]. Prabowo itu tidak lantas 'ganyang'. Itu enggak ada. Insyaallah. Dia itu fair. Kalah, ya sudah. Jabat tangan, saling undang," tuturnya.
"To be very honest, saya lihat petanya, kasih masukan. Siapa tahu nanti chemistry capres bisa merebut hati rakyat," ujarnya.
Untuk posisi cawapres, Amien mengatakan pihaknya sudah berbincang dengan Prabowo tentang sejumlah nama potensial. Di antaranya, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang, hingga Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.
"[Nama-nama kandidat] ini masih dimasak. Mudah-mudahan dalam dua-tiga minggu ini sudah fix," tandas dia.
(arh/pmg)