Ketua Umum PPP Romahurmuziy beranggapan, kebebasan berpendapat adalah sebuah hak konstitusional yang dilindungi pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Asal, manuver tersebut bisa menciptakan kondisi persaingan yang sehat.
"Tentu (#2019GantiPresiden) adalah hal yang tidak perlu kita khawatirkan karena itu bagian dari kompetensi yang sehat saja," jelas Romy, sapaan akrabnya di sela-sela 'Car Free Day', Jakarta Selatan, Minggu (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi kami yang paling penting sekarang adalah menjaga soliditas koalisi dan tim pemenangan agar bisa bergerak bersama-sama untuk Pileg dan Pilpres. Lalu kami juga pastikan pak Jokowi mendapatkan pendamping paling sesuai dan paling diinginkan oleh beliau kala pemenangan 2019 nanti," jelas dia.
"Syarat pendamping Pak Jokowi berdasarkan munas alim ulama antara lain santun, santri, berjiwa ulama, berintegritas, dan memiliki kompetensi elektual karena menyesuaikan dengan masyarakat," pungkas Romy.
"Ini soal ganti presiden 2019, ada juga yang (ingin) pak Presiden dua periode, namanya dinamika politik sah saja. Yang penting suasananya tidak gaduh," tutur Sufmi.
Meski demikian, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut gerakan #2019GantiPresiden bukanlah aspirasi masyarakat, melainkan manuver politik. Sebab, Hasto menilai gerakan tersebut muncul karena elektabilitas Jokowi yang tinggi di Pemilihan Presiden 2019 mendatang.
"Saya tidak melihat itu sebagai sebuah aspirasi. Saya melihatnya sebagai sebuah manuver politik karena elektabilitas Pak Jokowi yang tinggi," kata Hasto di DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pekan lalu. (evn)