Kemhan: Ada Penundaan Proyek Pesawat Tempur Indonesia-Korsel

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 05:30 WIB
Kemhan: Ada Penundaan Proyek Pesawat Tempur Indonesia-Korsel Ilustrasi pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Hadiyan Sumintaatmadja mengatakan ada penundaan dalam proyek pengembangan pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) yang dikerjakan Indonesia bersama Korea Selatan.

"Kelihatannya masih ada penundaan mungkin sebentar lah, tapi mudah-mudahan jalan," kata Hadiyan di Kawasan Monas, Jakarta, Rabu (25/4).

Hadiyan menyebut penundaan tersebut karena ada keterlambatan proses dalam proyek tersebut. Namun ia tak menjelaskan secara rinci tentang keterlambatan proses dimaksud.


"Ada masalah yang harus kita selesaikan dengan pihak Korea," ujarnya.


Hadiyan pun menegaskan tidak ada masalah anggaran dalam proyek pengembangan pesawat tempur tersebut. Menurut Hadiyan masalah yang menjadi kendala hanya persoalan teknis semata.

Hadiyan pun menyebut proyek kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan tersebut masih terus berjalan sampai saat ini.

"Iya (tetap lanjut) insyaallah doain saja," ujarnya.

Proyek pengembangan pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) yang dikerjakan Indonesia bersama Korea Selatan pernah tertunda pada 2009 silam.

Kemudian baru pada 7 Januri 2016 Indonesia dan Korea Selatan menandatangani cost share agreement untuk proyek tersebut.


Ada tiga fase pembuatan KF-X/IF-X, yaitu pengembangan teknologi atau pengembangan konsep (technology development), pengembangan rekayasa manufaktur atau pengembangan prototipe (engineering manufacturing development), dan terakhir proses produksi massal.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sempat mengungkapkan Indonesia belum membayar 20 persen dari total biaya pengerjaan KF-X/IF-X fase kedua seperti yang telah disepakati dalam kontrak.

Pada fase kedua pembuatan prototipe tersebut Indonesia harus membayar 20 persen dari total biaya sebesar Rp18 triliun atau 1,65 triliun won (US$1,3 miliar). Sementara 80 persen sisanya ditanggung pemerintah Korsel. Total dana yang dikeluarkan kedua negara untuk penggarapan fase kedua ini sebanyak 8,6 triliun won.

Direncanakan pada 2020 mendatang pesawat tempur tersebut sudah bisa diproduksi, dan pada 2025 diharapkan sudah bisa beroperasi. (kid/kid)