Saat itu, politikus Partai NasDem Akbar Faisal meradang mendengar pernyataan Rocky tersebut. Sementara selama ini Rocky dikenal keras dalam mengkritik Presiden Joko Widodo, sementara NasDem termasuk koalisi partai pendukung pemerintah.
Menurut Rocky, hari ini demokrasi Indonesia sudah dikepung oleh elektabilitas, bukan lagi intelektualitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan dosen filsafat Universitas Indonesia (UI) menganggap ganjil ketika pikiran, argumen, dan kritik justru dipatahkan oleh klaim-klaim komunalitas dan tangan aparat negara, terlebih di sebuah negara yang demokratis seperti Indonesia.
Rocky tidak ingin kata 'fiksi' digunakan untuk menjatuhkan lawan politik siapapun. Sehingga, dia meminta agar perkataannya soal 'kitab suci adalah fiksi' tidak dikaitkan dengan latar belakang politik.
Menurut Rocky, pelaporan dirinya ke polisi atas dugaan penyebaran informasi bermotif SARA untuk menimbulkan rasa kebencian adalah sebuah tindakan yang tidak masuk akal.
"Anda bayangkan kalau kasus ini dibawa ke pengadilan, apa yang mau diuji? Yang tersangka adalah silogisme. Lalu, bagaimana hakim bertanya, 'Hai silogisme, ke depan Anda. Berilah kesaksian!' Kekacauan itu yang mau kita bereskan," katanya.
Adapun dalam konferensi pers Maklumat Akal Sehat Rabu (25/4), sejumlah aktivis sosial dan hukum hadir sebagai bentuk dukungannya kepada Rocky. Mereka antara lain Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Alghiffari Aqsa, Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar, dan aktivis Sandyawan Sumardi. (osc/gil)