Namun, menurut mantan narapidana terorisme, Ali Fauzi Manzi, yang membuatnya terkejut adalah mereka kembali mensasar simbol agama dan rumah ibadah, seperti gereja, yang mirip dengan aksi kelompok teror pada era 1990-an dan awal 2000-an.
"Dengan mengorbankan seluruh anggota keluarga, aksi seperti ini mengadopsi aksi grup mereka di Irak, Suriah, Afghanistan. Ini serangan copy paste milik ISIS," kata Ali saat diwawancara CNNIndonesia TV, Senin (14/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ali menyatakan, setelah kematian dedengkot teroris seperti dr. Azahari dan Noordin Mohammad Top pada 2010, muncul generasi teroris baru. Mereka membentuk beragam kelompok seperti Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah, dan Jamaah Ansharut Tauhid.
"Hubungan terorisme Indonesia dan global cukup kuat. Mentor-mentornya masih ada di sana, masih bisa kirim e-mail dan pesan buat melakukan serangan brutal," ujar Ali.
"Empat anggota yang terluka yaitu Bripda M. Taufan, Bripka Rendra, Aipda Umar, dan Briptu Dimas Indra," kata Kepala Bidang Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera, dalam jumpa pers di Surabaya.
Menurut Frans, saat ini seluruh korban dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.
Serangan bom itu terjadi di depan gapura Mapolrestabes Surabaya. Peristiwa itu mengakibatkan beberapa polisi sedang berjaga dan warga terluka.
Polisi dan tim Gegana juga meminta pengguna jalan memutar arah dan menghindari Jalan Sikatan. Sebab, jalan itu sehari-hari ramai karena berada di pusat kota dan dekat dengan pusat niaga.
Kepala Bidang Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera menyatakan anggota polisi menjadi korban dalam kejadian itu. Menurut Frans, insiden itu terjadi pada pukul 08.50 WIB.
Kemarin, serangan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya, Jawa Timur. Sampai saat ini tercatat 13 orang tewas dan 41 orang luka-luka dalam kejadian itu.
Sedangkan di Rumah Susun Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo, juga terjadi ledakan bom di salah satu rumah. Korban yang tewas dalam kejadian itu tiga orang, dan dua anak-anak terluka. Diduga kuat ledakan itu tidak sengaja terjadi saat pelaku sedang merakit bom.
Presiden Joko Widodo menyatakan mengecam tindakan itu dan meminta Polri memberantas kelompok teroris sampai tuntas dan mempersilakan jika harus mengambil tindakan tegas.
Presiden Jokowi menyatakan berjanji akan melawan terorisme hingga tuntas. Dia juga meminta polisi tidak perlu ragu mengambil tindakan tegas di lapangan, ketika berhadapan dengan kelompok teroris.
"Saya sampaikan kepada polisi, saya perintahkan Kapolri tindak tegas, tidak ada kompromi dalam melakukan tindakan di lapangan," ujar Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi juga mendesak Dewan Perwakilan Rakyat dan kementerian segera menyelesaikan revisi undang-undang terorisme. Sebab menurut dia, pengajuan revisi itu sudah dilakukan sejak Februari 2016, dan sampai saat ini belum juga diputuskan. (ayp/stu)