David Febrian
Seorang pengamat dan analis amatir sekali; menyukai sastra dalam segala ragamnya; menyukai musik klasik sebagai mantra; percaya bahwa politik adalah solusi dan masih mencari Baudalino-nya Umberto Eco hingga kini.

Terorisme dan Penyakit Peradaban Kita

David Febrian, CNN Indonesia | Kamis, 17/05/2018 11:30 WIB
Terorisme dan Penyakit Peradaban Kita Aksi ratusan orang dari berbagai lapisan mengecam aksi terorisme bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terorisme adalah kepanjangan tangan dari kekuatan jahat yang tak pernah berhenti memusuhi kemanusiaan.

Dunia pernah mengenal Hannibal Lecter, karakter ciptaan Thomas Harris dalam seri novelnya yang mengerikan itu, seorang kanibal keji dengan kepintaran luar biasa. Dunia juga mengenal Adolf Hitler, seorang orator ulung tanpa ampun, atau Stalin seorang fanatik keji, Pol Pot Si Tukang jagal dari Timur, dan tentu saja Soeharto dengan rentetan pelanggaran hak asasi manusia.

Kita mengenal banyak figur sejarah yang kejam dan beringas luar biasa.


Yang tak kalah keji dari itu semua adalah para teroris dan terorisme yang mengaburkan batasan definisi musuh. Misalnya saja Abu Bakar Al Baghdadi, pemimpin ISIS, yang membantai sesama Muslim di Irak dan Suriah. Sebuah teror keji yang membuat seluruh rambut di tubuh berdiri.

Mereka tidak mengenal batasan medan dan area damai. Mereka tak mengenal aturan perang atau syariat agama. Bagi mereka, musuh adalah setiap orang yang tidak sealiran. Dan bahkan untuk membantai teman sealiran pun bukan perkara yang memberatkan jiwa.

Namun saya selalu berpendapat, ekstremisme itu ada di setiap bentuk ideologi, pemikiran, dan agama. Bukan berarti setiap pemikiran, ideologi atau agama itu memiliki celah ekstrimisme, tetapi lebih bagaimana para penganutnya menafsirkan "isme" itu.

Pada awal pertengahan abad pertama Masehi, seorang kaisar membakar kota Roma. Ia kemudian menonton kejadian itu sambil bernyanyi dan memetik harpa. Sebelum itu, juga terjadi peristiwa yang tak kalah mengerikan kala Kaisar ini dan kaum pagan Roma meneror kaum pengikut Nabi Isa atau Yesus di pusat peradaban dunia.

Teror berbeda disebarkan tangan-tangan kekuasaan bengis, sebagaimana digambarkan oleh Henryk Sienkiewicz, seorang pemenang Nobel Sastra dari Polandia, dalam novel historisnya, Quo Vadis. Kala itu Colloseum dijadikan tempat mengadu manusia dengan manusia, manusia dengan singa, dan pengikut Kristen awal dijadikan tontonan memabukkan untuk memuaskan hasrat sadisme warga Roma kuno. Teror.

Teror juga terjadi lewat tangan kaum Hashisshin pada abad ke-11. Hasan Ibnu Sabah yang dijuluki sebagai Orang Tua dari Gunung adalah pengikut Syiah Fathimiah meneror wilayah sekitar Suriah, Iraq, juga Persia dengan mengirimkan pembunuh-pembunuh terlatih, membantai para raja, baik Islam maupun Kristen.

Hashisshin adalah terminologi awal kata "assassin" pada Bahasa Inggris. Warisan kaum teroris ini masih kita rasakan sekarang, baik "istilah" untuk pembunuh terlatih ini maupun metodologi indoktrinasi ataupun tekniknya.


Lembaran sejarah dunia bukan hanya diisi oleh tokoh-tokoh keji ini, tapi berbagai ideologi atau isme dengan jejak-jejak kelamnya.

Banyak atheis yang merasa bahwa mereka lah yang paling toleran, tapi sejarah atheisme dan pengikutnya pun berdarah-darah. Marxisme dalam salah satu dogmanya menyebut "agama adalah candu bagi masyarakat" dan mereka memerangi 'para pengisap candu' dan 'pengedarnya', dengan dipenjarakan atau dihukum mati.

Komunisme juga memiliki sejarah yang tak kalah mengerikan. Jika korban Stalin dan Mao digabungkan, maka akan berjumlah hampir 50 juta orang. Hitler yang punya Tuhannya sendiri bisa mengklaim korban hingga 10 juta orang.

Indonesia juga tak kalah. Penafsiran tunggal Pancasila oleh Soeharto dan antek-anteknya telah meneror bangsa ini lebih dari tiga dekade. Ideologi dijadikan sebagai alat penebar teror, intimidasi, kekerasan dan penghilangan secara paksa. Kamp pembuangan ala Stalin di Pulau Buru jadi tempat "mengajarkan Pancasila" bagi orang-orang yang berbelok dari ideologi yang dianggap mahaagung dan sakral.
Di pertengahan 1990-an, tepatnya di Bosnia Herzegovina, ribuan Muslim dibantai kaum radikal kristen yang dikomandoi Slobodan Milosevic dan jenderal-jenderalnya seperti Radovan Karadjik. Ada juga kebengisan Pol Pot di Kamboja, serta Turki Ustmani di Armenia.

ISIS adalah fenomena teror terbaru. Kekerasan yang menyebabkan teror tak terperikan ini harus dipandang sebagai penyakit. Haruskah Umat Islam membela perilaku keji sebagian saudaranya ini? Jawaban saya: tidak. Mari kita sebarkan bahwa perilaku kekerasan bukan ajaran agama mana pun, baik itu Islam, Kristen, Budha, atau Hindu.

George Bush, Jr. sempat menyebut invasi Irak dan Afghanistan sebagai Perang Salib baru di hadapan pemuka Kristen di Amerika Serikat dan "collateral damage" serangan itu adalah ratusan ribu umat Islam di Irak dan Afghanistan. Namun tetap saja, kekejaman invasi ke Iraq itu bukan perilaku Kristen melainkan dorongan kekejaman dan kerakusan kekuasaan dan manusia.

Fenomena terorisme adalah milik semua bangsa dan agama dan ideologi. Bahkan di dunia modern, masih ada fenomena abad Kolonial di Timur Tengah sana, berupa penjajahan zionis Israel terhadap Palestina yang telah memakan korban ratusan ribu rakyat Palestina dan pengungsi permanen sebesar hampir 2 juta orang.

Ini bukan pembenaran atas peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, tetapi sebuah ketukan untuk menggugah kesadaran kita.
Kekerasan dan pembantaian atas nama "azaz" ini bertebaran sepanjang sejarah, dari ujung Barat hingga Timur, Selatan ke Utara. Setiap bentuk radikalisme dengan kekerasan tidak bisa diterima. Namun standar ganda dalam mengutuknya adalah kemunafikan terbesar yang bisa dimiliki oleh seorang yang mengaku humanis dan toleran.

Aung San Suu Kyi adalah satu contoh kemunafikan itu. Penerima hadiah Nobel Perdamaian ini diam dan tak bersuara atas kekerasan Umat Budha atas Muslim Rohingya. Padahal terungkap dengan jelas ada upaya sistematis dari junta berkuasa untuk mengeliminasi dan mengurangi jumlah Muslim Rohingya.

Karakter seperti Aung San Suu Kyi ini bertebaran di sekitar kita. Haruskah kemunafikan besar ini kita anut? Tolerankah kita bila mengutuk sebuah kejahatan karena pelakunya tak sama dengan kita, lantas ketika pelakunya adalah sesama kita lantas kita diam? Itukah sikap toleran?

Terorisme adalah perilaku terkutuk, dan mengutuknya tidak cukup dengan memakai standar ganda yang sangat munafik. Namun mengutuknya harus dengan kesadaran penuh, bahwa "penyakit parah" ini sudah merasuki kita semua. Saat seperti inilah ucapan seorang sahabat menjadi relevan, yaitu "penyakit tidak bisa diobati jika kita tidak mengakui kita sakit."

Perilaku saling menghormati dan menghargai keyakinan orang lain harus ditingkatkan. Pembicaraan dengan suasana damai harus ditumbuhkan. Kita mengutuk penyerangan "Charlie Hebdo", misalnya. Namun pada saat bersamaan harus kita sadari bahwa menghargai sesama manusia dan keyakinannya itu lebih berharga dari sekedar kebebasan berekpresi.
Mari, jangan kutuk terorisme dengan mengutuk semua penganut agama yang kebetulan dianut pelaku teror. Ini hanya akan menimbulkan runtuhnya rasa damai. Dan hanya dalam damailah kita bisa saling berbicara dengan penghormatan dan pernghargaan. Dalam damai kita bicara tentang persahabatan.

Agama, ideologi, dan pemikiran tentu baik untuk dipertahankan. Namun menghujat pemikiran, ideologi, dan agama orang lain, memiliki kekejian yang sama dengan sebuah aksi teror, meski pada dimensi yang berbeda.

Satu hal yang pasti, tujuan terorisme bukan semata soal membunuh atau menambah daftar kematian. Tujuan utama terorisme adalah menyebar ketakutan, saling tak percaya, dendam dan pembalasan. Ia akan menciptakan lingkaran setan tak berkesudahan apabila ditanggapi sebagaimana Amerika Serikat dan sekutunya menanggapi terorisme: dengan menyerang dan menginvasi negara lain.

Tak ada jalan yang lebih baik selain jalan damai. Damai mengajarkan damai, sementara hujatan hanya mengundang hujatan dan reaksi. Sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, "Anda hanya berharap pukulan datang ke wajah Anda". (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS