Tutut Soeharto: Bapak Kami Melarang Dendam

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Senin, 21/05/2018 19:23 WIB
Tutut Soeharto: Bapak Kami Melarang Dendam Tutut Soeharto bercerita waktu-waktu terakhir bersama Soeharto jatuh tahta. (REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut turut angkat suara berkenaan dengan momen 20 tahun ayahnya berhenti dari kursi presiden yang jatuh pada hari ini. Tutut ikut berkomentar mengenai momen itu dalam laman resmi pribadinya tututsoeharto.id yang diunggah pada hari ini Senin (21/5).

Dia memulai cerita dengan mengingat kembali sang ayah menyatakan berhenti berkuasa pada 21 Mei 1998. Bagi Tutut, peristiwa itu tidak akan pernah dilupakannya.

Sebelum menyatakan berhenti, kata Tutut, soeharto memanggil semua anaknya. Soeharto ingin menyampaikan niatnya itu sebelum benar-benar menyatakan berhenti sebagai presiden.



Semua anak Soeharto mulanya tak rela ketika ayahnya memilih berhenti lantaran didesak oleh banyak kelompok masyarakat serta politikus secara masif.

"Kami terus terang pada saat itu agak tidak rela kenapa Bapak yang sudah bekerja seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara ini diperlakukan demikian," tulis Tutut.

"Kami memohon Bapak untuk menunda dulu keputusan beliau," lanjutnya.


Soeharto, kata Tutut, sempat bertanya kepada anak-anaknya mengapa harus menunda untuk berhenti sebagai presiden.

Tutut dan adik-adiknya mengatakan Soeharto masih memiliki banyak pendukung. Bahkan, anak-anak Soeharto sempat menyatakan para pendukung ayahnya siap turun ke jalan untuk melawan demonstran yang sejak lama berada di jalanan dan menduduki gedung DPR/MPR.

Tutut Soeharto mengenang kejatuhan ayahnya dari pucuk pimpinan RI. (REUTERS)

Soeharto, lanjut Tutut, bertanya apa manfaat yang didapat jika pendukung dirinya melawan demonstran. Anak-anak Soeharto menjawab para pendukungnya itu bakal menunjukkan bahwa sang ayah tidak bersala.

Tutut lalu menuliskan tanggapan Soeharto terhadap permintaan anak-anaknya secara panjang lebar.

"Bapak berkata, 'sadarkah kalian setelah mereka turun ke jalan akan banyak lagi korban. Tidak! Bapak tidak mau itu terjadi hanya untuk mempertahankan kedudukan Bapak dan semakin banyak lagi korban akan berjatuhan'," tulis Tutut menirukan tanggapan ayahnya kala itu.


Soeharto, lanjut Tutut, tetap memilih berhenti karena sudah tidak dikehendaki menjadi presiden. Soeharto juga meminta semua anaknya untuk merelakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Soeharto meminta anak-anaknya percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

"Dan satu hal Bapak minta pada kalian semua, jangan ada yang dendam denga kejadian ini dan jangan ada yang melakukan balas dendam karena dendam tidak akan menyelesaikan masalah," tulis Tutut masih menirukan pernyataan sang ayah kala itu.

Tutur dan semua adiknya terdiam mendengar pendiri Partai Golkar itu bicara demikian.


Soeharto menegaskan bahwa balas dendam belum tentu mengubah hidup sesuai dengan yang dikehendaki. Belum tentu kehidupan keluarga Cendana menjadi lebih baik.

"Yang ada malah mereka yang akan kalian balas itu belum tentu juga mau menerima dan mereka akan membalas lagi," tulis Tutut menirukan Soeharto.

Jika itu yang terjadi, kata Soeharto seperti ditulis Tutut, masalah justru menjadi lebih panjang dan tidak terselesaikan. Bahkan tidak ada yang bisa memastikan kapan masalah itu dapat berakhir jika anak-anak Soeharto membalas dendam.


Tutut mengaku terhenyak saat mendengar penjelasan ayahnya. Dia bersyukur karena ditakdirkan menjadi anak Soeharto.

"Apapun kata orang tentang Bapak, beliau salah seorang putra bangsa yang terbaik bagi kami," ucap Tutut.

(DAL)