"Memang kalau melihat data yang terpapar itu angkanya sudah sangat mengkhawatirkan. Ini yang terus akan kita kerjakan dan proses pencegahan adalah yang lebih baik daripada kita menyelesaikan kalau sudah terjadi," kata Jokowi melalui keterangan resmi, Kamis (7/6).
Hal itu disampaikan menyikapi penangkapan MNZ, terduga teroris di Universitas Riau (UNRI) beberapa waktu lalu. MNZ merupakan alumni UNRI 10 tahun lalu yang menggunakan laboratorium kampus untuk membuat bom.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, deradikalisasi tidak hanya dilakukan aparat Polri, TNI, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Sejumlah kelompok keagamaan akan dilibatkan karena bersentuhan langsung dengan rakyat.
Selain itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi disebut sedang mengkaji perlu atau tidaknya regulasi baru terkait pecegahan radikalisme di perguruan tinggi.
"Tidak ada hubungannya antara kebebasan akademik, berserikat, dengan proses pencegahan radikalisme. Ini proses dalam rangka eksistensi negara, bukan yang lain," Jokowi menegaskan. (osc)