Di Israel, Yahya Singgung 'Panas Dingin' Relasi Yahudi-Islam

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Selasa, 12/06/2018 20:37 WIB
Di Israel, Yahya Singgung 'Panas Dingin' Relasi Yahudi-Islam Yahya Cholil Staquf berkunjung ke Israel pekan ini. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyinggung hubungan antara umat Yahudi dan Islam dalam sesi dialog dengan Rabi David Rosen dalam acara yang dihelat American Jewish Committe (AJC) Global forum di Yerusalem, pekan ini. 

Berdasarkan transkrip lengkap dialog tersebut yang dimuat oleh situs nu.or.id, Yahya menjawab sejumlah pertanyaan dari Rabi soal hubungan antara Islam dan Yahudi.

Awalnya Rabi  mengungkit mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pernah bicara soal keistimewaan hubungan Islam dan Yahudi. Dia lantas meminta pendapat Gus Yahya dalam memandang hubungan Islam dan Yahudi.


Gus Yahya menjawab pertanyaan itu dengan menyebut bahwa hubungan Islam dan Yahudi cenderung mengalami pasang surut.

"Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi," ucap Gus Yahya dalam dialog yang disaksikan sekitar 2.400 tamu yang hadir. 

Gus Yahya kemudian mengakui ada pertentangan di antara kedua agama tersebut. Salah satu sumbernya yakni terletak pada kedua ajaran agama itu sendiri. Tetapi dia tidak menyebut konflik yang melanda warga Israel dan Palestina sebagai contoh dari pertentangan antara Yahudi dan Islam.

Dia lalu menyarankan ajaran agama lebih dioptimalkan dalam kehidupan nyata. Menurutnya, perlu ada cara-cara baru dalam memfungsikan agama demi meredam konflik yang terjadi.

Dia menyarankan hal tersebut kepada umat Islam dan Yahudi, bukan kepada warga Israel dan Palestina secara tersurat atau gamblang.

Gus Yahya menyebut bahwa saat ini dunia tengah menghadapi konflik. Dan agama, lanjutnya, hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik. Meski begitu, Gus Yahya tidak menyinggung perseteruan Israel-Islam secara tersurat.

"Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah," ucap Gus Yahya.

Menurut Gus Yahya, dunia tidak akan bisa bertahan dari akibat konflik yang terjadi selama ini jika tidak ditangani dengan solusi baru dan berbeda.

Gus Yahya menilai seluruh pihak mesti memilih Rahmah atau kasih sayang atau kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, Rahmah merupakan awal dari semua kebaikan yang diidamkan.

"Jadi jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: Mari memilih Rahmah," ujar Gus Yahya.

Di Israel, Yahya Singgung 'Panas Dingin' Relasi Yahudi-IslamIlustrasi konflik Israel-Palestina. (REUTERS/Amir Cohen)
Gus Yahya selanjutnya menyebut cara lain yang dapat ditempuh untuk meredam konflik.

"Dan kedua menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama lain," katanya.

Rabi David lantas bertanya balik kemungkinan terciptanya hubungan harmonis Islam-Yahudi jika interpretasi terhadap ayat Alquran dan Hadist dilakukan.

Jawaban Gus Yahya, bukan hanya mungkin, tetapi bahkan sesuatu yang harus dilakukan.

Dia menjelaskan bahwa setiap ayat Alquran diturunkan sesuai dengan konteks realitas tertentu dan dalam masa tertentu. Selain itu, perkataan Nabi Muhammad SAW atau hadist juga terlontar di saat situasi dan kondisi tertentu.

"Ketika situasi dan realitasnya berubah maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula," ujar Gus Yahya.

Gus Yahya menghadiri sejumlah acara dalam kunjungan ke Israel pekan ini. Selain berdialog di forum AJC, Gus Yahya juga sempat berpidato di forum ICFR (Israel Council on Foreign Relations).

Dalam pidato itu ia cukup banyak menyinggung konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung sejak lama.

"Senyatanya, saya datang kesini bukan atas nama Indonesia, negeri asal saya, bukan pula atas nama Nahdlatul Ulama, organisasi tempat saya mengabdi. Saya datang atas nama kegelisahan dan kesedihan saya pribadi. Kegelisahan dan kesedihan yang tumbuh diatas kesaksian saya akan penderitaan orang-orang Palestina. Karena penderitaan mereka bukanlah milik mereka sendiri saja," kata Gus Yahya dalam pidatonya.

"Penderitaan mereka adalah juga kekalutan Bangsa-bangsa Arab dan kegalauan Dunia Islam. Dan pada saat yang sama, laksana gambaran di seberang cermin, penderitaan Palestina adalah juga keresahan Israel dan kegamangan Dunia Barat. Dan kini, setelah berpuluh-puluh tahun, semua itu hampir-hampir mengarah pada keputusasaan umat manusia." (wis)