Gajah 'Bunta' Ditemukan Mati Diduga Keracunan Buah Kuweni

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Rabu, 13/06/2018 21:57 WIB
Gajah 'Bunta' Ditemukan Mati Diduga Keracunan Buah Kuweni Ilustrasi. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gajah jinak bernama Bunta ditemukan mati di Dusun Jamur Batang, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur Sabtu (9/6). Diduga Bunta mati karena keracunan buah kuweni.

Menurut laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang diterima Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, diagnosa sementara, Bunta keracunan berdasarkan kerusakan dan perubahan di organ usus, jantung, paru-paru, dan hati.

"Juga ada cairan di rongga dada. Cairannya keruh dan ada buah kuweni di usus. Jadi orang itu ngeracuninya pakai buah kuweni," kata Siti, Rabu (13/6).


Saat ini, sampel jantung, ginjal, limpa, dan usus Bunta sedang dibawa ke Puslabfor Medan untuk penyidikan lebih lanjut.


Siti melanjutkan pihak berwenang juga akan mengambil sisa patahan gading kiri Bunta sepanjang 46 cm. Sementara, gading kanan sepanjang 148 cm masih utuh.

Menurut Siti, satu gading gajah memiliki berat 4 kg dengan harga jual rata-rata Rp8 juta per kg.

"Jadi kalau setelah dicolong orang itu harganya sudah bisa dihitung berapa," ujar Siti.

Saat ini, penanganan kematian Bunta sedang ditangani oleh Kepolisian Aceh Timur, BKSDA Aceh, dan Direktorat Penegakkan Hukum KLHK.

Siti menuturkan, penyebaran gajah di Aceh terdapat di 19 kabupaten dari 23 kabupaten/kota yang ada. Penyebarannya yakni 25 persen di hutan konservasi, dan 55 persen di hutan lindung dan hutan produksi.

Sisanya, gajah terdapat di areal-areal umum. Menurut data BKSDA, populasi gajah di Aceh tahun 2017 adalah 539 ekor.

Pengawasan Kurang Maksimal

Bunta merupakan gajah jantan penghuni Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur. CRU itu pernah dikunjungi aktor Hollywood, Leonardo DiCaprio pada Maret 2016 silam.

"(Bunta mati) di halaman CRU. 400 meter dari kantor CRU," kata Siti.

Siti menyebut KLHK akan mengevaluasi pengelola CRU yang disebutnya personelnya sangat terbatas. Sehingga, pengawasan terhadap makhluk hidup kurang maksimal.

Siti menyebut akan memanggil Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Wiratno terkait hal ini.

"Memang nggak ada pilihannya, kecuali bekerja di waktu sekarang karena di waktu lalu agak terabaikan. Nggak intensif. Sekarang kan (kasus) bermunculan terus. Jadi harus diperbaiki manajemen dan lain lain," kata Siti.
(ugo/ugo)