Lulusan SD Minim, SMP di Gunung Kidul Kekurangan Siswa Baru

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 02/07/2018 08:01 WIB
Lulusan SD Minim, SMP di Gunung Kidul Kekurangan Siswa Baru Ilustrasi siswa sekolah menengah pertama. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) maupun madrasah tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta kekurangan siswa baru tahun ajaran 2018/2019. Hal ini lantaran siswa lulusan SD minim dan tak sebanding dengan kuota penerimaan siswa baru untuk sekolah lanjutan pertama.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Gunung Kidul, Bahron Rosyid mengatakan pada tahun ajaran 2017/2018 lalu jumlah lulusan SD hanya 9.222 siswa, sedangkan kuota siswa SMP/MTs negeri maupun swasta tersedia 11.700 siswa.

"Adanya selisih antara jumlah lulusan SD dengan kuota di SMP serta MTs yang tersedia ini tentunya akan membuat sejumlah sekolah kekurangan siswa. Kuota di SMP serta MTs lebih banyak daripada jumlah lulusan SD untuk tahun ini," kata Bahron, Senin (2/7) dikutip Antara.


Bahron mengatakan kekurangan siswa yang akan dialami oleh sejumlah sekolah tersebut bukan lantaran penerapan zonasi penerimaan peserta didik baru PPDB). Dia menyebut zonasi tidak begitu mempengaruhi jumlah siswa yang masuk sekolah menengah pertama.

"Kalau ada sekolah yang kekurangan murid, itu bukan karena terdampak dengan sistem zonasi, tetapi jika melihat data memang ada penurunan jumlah siswa yang lulus dari kelas 6 SD," katanya.

Kepala Sekolah SMP Kanisius Wonosari Yohanes Nugraha mengatakan problem perihal kekurangan siswa disebutnya tak menjadi masalah. Di SMP Kanisius Wonosari sendiri, setiap tahunnya serapan kuota siswa anyar memang seringkali tidak maksimal.

"Kami sudah terbiasa dengan hal semacam ini (kekurangan siswa)," katanya.

Meski demikian, pihaknya tetap memberikan pelayanan kepada siswa yang belajar di SMP Kanisius dengan maksimal. Sistem zonasi yang diberlakukan untuk sekolah negeri tidak akan berdampak banyak untuk sekolah swasta.

Sebagaimana diketahui, dalam sistem zonasi, salah satu indikator yang dijadikan sebagai pertimbangan utama adalah jarak sekolah dengan kediaman siswa.

"Kami yakin tetap siswa pada tahun ajaran 2018/2019," katanya. (osc)