Kriminolog Universitas Indonesia, Josias Simon, mengatakan kejahatan jalanan justru marak pasca masa Lebaran. Di sini dia menilai titik masalahnya.
Diketahui polisi melakukan Operasi Ketupat untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat dari tindak kejahatan, terutama selama arus mudik dan balik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target (jumlah penangkapan pelaku kejahatan oleh aparat) mengendor artinya juga sekarang para penegak hukum yang lain beristirahat itu kemudian dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan," ujar Josias saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/7).
Artinya pelaku dengan cerdik memanfaatkan hal-hal itu. Pelaku memanfaatkan kendurnya pengamanan, terutama di lokasi-lokasi yang sudah dipantau, serta menemukan timing yang tepat untuk melakukan aksinya.
"Pelaku kejahatan kan selalu lihat bagaimana kondisinya," tutur Josias.
Setidaknya sudah terdapat dua korban tewas dari aksi kejahatan jalanan yang terjadi dalam sepekan terakhir. Korban tewas pertama kali menimpa perempuan berusia 37 tahun berinisial W. Dia yang pada Minggu (1/7) pagi menumpang ojek daring tewas akibat setelah terjatuh saat dijambret di tengah kendaraan sepeda motor yang melaju di Jalan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Tewasnya W karena terjatuh dari motor yang sedang melaju kencang dan terseret di jalan. Penjambret pun melarikan diri.
Peristiwa kejahatan jalanan selanjutnya menimpa S (34), Rabu (4/7) malam di kawasan Cipondoh, Tangerang. S ditembak dan ditusuk oleh begal saat berusaha mempertahankan motor. S pun tewas.
Sebelum W dan S, kejahatan juga menimpa Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarief Burhanudin yang dijambret saat sedang bersepeda di kawasan Kota Tua, akhir bulan lalu. Kali itu aparat bergerak cepat dan bertindak tegas dengan menembak mati satu penjambret.
Pencegahan, Ketimbang Tembak Mati
Menurut Josias yang harus dijadikan perhatian dari aksi kejahatan jalanan adalah apakah kejahatan itu memang terjadi di lokasi rawan kriminal atau tidak. Jika kejahatan jalanan masih terjadi di lokasi rawan, pengawasan polisi pun dipertanyakan.
Di satu sisi, polisi bukan tanpa respons dalam aksi kejahatan jalanan akhir-akhir ini. Kejahatan jalanan yang semakin marak jelang Asian Games ini pun membuat Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis mengintruksikan anak buahnya untuk tidak segan-segan menembak mati pelaku yang melawan petugas.
Josias menilai tindakan tersebut memang berpotensi mengurangi kejahatan jalanan. Namun akan lebih tepat jika dilakukan tindakan persuasif terlebih dahulu, misalnya dengan pencegahan.
"Jadi kalau dalam beberapa wilayah rawan yang memang kasusnya tinggi, penanganannya secara persuasif tidak dapat dilakukan, untuk membuat tobat si pelaku itu memang harus dilakukan (tembak mati). Otoritas setempat harus jelaskan, jangan tiba-tiba ada begal, tembak mati," ujarnya.
Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis mengintruksikan anak buahnya tembak mati pelaku kejahatan yang melawan polisi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono). |
Dari 57 kasus tersebut, 39 pelaku diantaranya ditahan. Hasil penangkapan tersebut akan diumumkan Jumat (6/7) ini.
"Jadi dari 39 itu melakukan jambret, curanmor, kemudian ada penangkapan dengan sajam. Pelaku sudah kita lakukan penahanan," ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Kamis (5/7).
(osc/kid)
Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis mengintruksikan anak buahnya tembak mati pelaku kejahatan yang melawan polisi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).