"Kondisi Gunung Agung belum stabil. Namun potensi erupsi yang lebih besar dari erupsi yang terjadi sebelumnya masih relatif kecil, karena saat ini estimasi kami terhadap magma yang ada di dalam tubuh gunung masih belum signifikan," kata Devy di Karangasem, Bali, seperti yang dikutip dari Antara pada Sabtu (7/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat yang di luar radius empat kilometer diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik," ujar Devy.
"Kalau ada gempa vulkanik mengindikasikan adanya pergerakan magma ke dalaman, namun saat ini kami melihat adanya pengurangan tendensi suplai magma ke permukaan," kata Devy.
Untuk deformasi Gunung Agung terlihat masih berfluktuasi, namun secara umum belum adanya penunjukkan pengembungan perut gunung atau penambahan volume magma yang signifikan di dalam tubuh gunung tertinggi di Bali ini.
"Secara geokimia, kami telah mengukur gas yang masih terekam 400 ton per hari, dibandingkan hari sebelumnya lebih besar sekitar 1.000 ton per hari," ujar Devy.
Namun dari jumlah gas tersebut mengindikasikan Gunung Agung mengalami sistem terbuka atau gas-gas ini bisa naik ke permukaan relatif lebih mudah.
"Hal ini sangat baik untuk mengurangi tekanan di dalam tubuh Gunung Agung," pungkasnya.
(ard)