Erupsi strombolian menurut Kasbani memiliki ciri khas tekanan gas yang kecil sehingga jarak lontaran material gunung tidak akan jauh dan tidak menghasilkan awan panas.
"Sebenarnya, letusan ini justru letusan yang tidak berbahaya, karena biasanya radiusnya daerah lontaran tidak jauh dari kawah," kata Kasbani kepada CNNIndonesia.com, Selasa (3/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan erupsi tipe strombolian tersebut merupakan erupsi yang biasa terjadi di gunung api lain misalnya di Gunung Krakatau, Gunung Merapi, dan sebagainya.
Ia menambahkan dari hasil pemantauan, perkiraan magma yang tersisa di dalam tubuh Gunung Agung hanya berkisar kurang dari satu juta meter kubik.
Terkait dengan status Gunung Agung, Kasbani menyampaikan sampai saat ini statusnya masih berada di Level III atau Siaga. Status tersebut bisa berubah tergantung pada hasil pemantauan aktivitas Gunung Agung.
"Status tergantung dari tingkat aktivitas, kedua potensi ancamannya seberapa besar. Kalau potensinya segitu-segitu saja ya enggak dinaikkan," kata Kasbani.
Kemudian pagi tadi, Gunung Agung kembali erupsi dua kali dengan jarak waktu kurang dari 30 menit.
Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 09.28 WITA dengan tinggi kolom abu hingga 2.000 meter dari puncak gunung disertai intensitas tebal condong ke arah barat. Kemudian erupsi kedua terjadi pada pukul 09.46 WITA setinggi 500 m ke barat. (wis)