TGB: Jangan Jadikan Pilpres Seperti Pertentangan Mukmin-Kafir

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Rabu, 11/07/2018 21:56 WIB
TGB: Jangan Jadikan Pilpres Seperti Pertentangan Mukmin-Kafir TGB Muhammad Zainul Majid mengimbau semua pihak menjadikan Pilpres 2019 sebagai ajang bertarung gagasan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengimbau agar masyarakat tak perlu berlebihan dalam mendukung paslon tertentu Pilpres 2019 mendatang, termasuk mengibaratkannya dengan pertarungan hidup-mati.

"Tak usah menjadikan ini sebagai semacam battle field, hidup atau mati, masalah pertentangan penyebutan antara mukmin dan kafir. Karena, kan, most pobably semua calon yang akan maju, kan, muslim," kata TGB saat ditemui di Kantor ICMI, Jakarta Pusat, Rabu (11/7).

Dia pun meminta agar simpatisan pasangan calon di Pilpres 2019 memanggil para pesaingnya dengan gelar yang buruk, termasuk sebutan 'kelompok mukmin' dan 'kelompok yang kafir".


Ia mengingatkan karena sesama manusia maupun paslon memiliki satu iman dan saling bersaudara. 

Sebelumnya, TGB juga mengajak semua pihak tidak menjadikan ayat-ayat bernuansa perang yang terkandung dalam Alquran sebagai dalih untuk meraih kekuasaan di Pilpres 2019.

Ia mengatakan bahwa Pilpres merupakan momentum beradu gagasan sesama anak bangsa, bukan sebaliknya sebagai medan peperangan yang menyebabkan konflik di masyarakat.

"Janganlah pakai ayat perang untuk pilpres, karena kita tidak sedang berperang, kita ini kan anak bangsa, sama satu sama lain. Saling menyisi saling melengkapi" kata TGB saat ditemui di Kantor ICMI, Jakarta Pusat, Rabu (11/7).

Selain itu, ia meminta agar masyarakat maupun para pendukung calon presiden tak menggunakan sentimen primordial atau penggunaan isu suku, agama dan antargolongan (SARA) untuk kepentingan politik.

Menurut TGB, persatuan dan persaudaraan harus diutamakan ketimbang hanya mementingkan kepentingan politik sesaat yang tiap lima tahun sekali pasti akan bergulir.

"Dan itu ajakan untuk menghadirkan wacana pilpres yang lebih sehat, lah, tak usah didominasi sentimen primordial. Lebih kepada tarung gagasan," ujarnya.

(wis/wis)