Kedua calon dimaksud, yakni Ahmad Hidayat Mus dan Syahri Mulyo. Diketahui sebagai calon gubernur Maluku Utara Hidayat Mus memperoleh suara terbanyak hasil rekapitulasi KPU meski telah berstatus tersangka. Begitu pula Syahri yang menjadi calon bupati Tulungagung, Jawa Timur.
"Hasil-hasil pilkada masih mengecewakan. Buktinya masih ada sekurang-kurangnya dua tersangka korupsi tapi masih bisa menang. Ini tentu mengecewakan," kata Pramono di akun facebooknya, Kamis (12/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena dalam beberapa hal, kita belum bisa sepenuhnya mengharap pemilih untuk mengambil keputusan," lanjut Pram.
Pramono tidak menyebut secara gamblang calon-calon dimaksud. Dia hanya mengatakan calon kepala daerah itu memiliki riwayat yang bagus dalam memberi pelayanan kepada masyarakat.
Kemudian, Pramono juga menyoroti sejumlah dinasti politik yang telah lama berkuasa tapi gagal memenangkan Pilkada 2018. Menurutnya, hal itu juga patut disebut sebagai kabar gembira dari demokrasi di Indonesia. Sebab, dia mengatakan bahwa fungsi pemilu adalah reward and punishment.
"Yakni memberi ganjaran bagi kandidat berprestasi dan memberi hukuman bagi kandidat yang kinerjanya jeblok," katanya.
Diketahui, kotak kosong di Kota Makassar memperoleh suara lebih besar dari pasangan Munaffri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).
"Karena pemilih mulai berani mengekspresikan perlawanannya terhadap kesewenang-wenangan koalisi parpol yang mengusung satu calon yang tidak sesuai aspirasi publik meski sah secara hukum," ujar Pramono. (osc/sur)