Prabowo Duga Ada yang Ingin Jegal Anies Jadi Cawapres

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 16:54 WIB
Prabowo Duga Ada yang Ingin Jegal Anies Jadi Cawapres Anggota DPRD DKI Jakarta Prabowo Soenirman menduga ada yang berusaha menggembosi Anies Baswedan jadi cawapres Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Aghnia Adzkia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI Jakarta Prabowo Soenirman menduga ada yang ingin menjegal Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk melangkah sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

Prabowo menuding lawan politik sengaja memunculkan isu perombakan pejabat DKI untuk menggembosi Anies.

"Ini tahun politik, sehingga dikesankan Pak Anies itu otoriter, Pak Anies tidak taat hukum. Itu sengaja dilakukan oleh mereka," kata Prabowo kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/7).



"Kelompok-kelompok yang tidak ingin Pak Anies jadi cawapres," tambah dia.

Prabowo menyebut pihak yang memainkan isu perombakan pejabat DKI ini berkaitan dengan partai politik. Meski begitu ia enggan menyebut secara spesifik.

Ia hanya menyebut mereka sebagai barisan sakit hati dari partai yang berseberangan dengan Partai Gerindra.

Padahal, menurut Prabowo, kebijakan serupa pernah dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat masih menjabat DKI 1.


Prabowo juga mengkritik Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) yang dinilai memperkeruh suasana. Dia menilai sah-sah saja jika Anies mencopot anak buahnya via pesan singkat Whatsapp.

"Kalau ada pelanggaran, pelanggaran di sisi mana? Selama ini kan mereka katakan pelanggaran-pelanggaran, tapi tidak jelas yang mana. Zaman sekarang kan, kasih tahu orang bisa pakai telepon, pakai WA, zaman canggih begini," ujarnya.

Anies banyak dikritik usai melakukan pencopotan 16 pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta secara diam-diam.

Beberapa pejabat yang dicopot menyampaikan bahwa Anies memecat tanpa pemberitahuan resmi terlebih dahulu.

Bahkan mantan Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardana mengaku tidak mendapat pekerjaan yang jelas setelah dicopot Anies.

"Ini kan akibat kebijakan, yang menentukan kebijakan kan bos-bos yang berkuasa, BKD (Badan Kepegawaian Daerah) dan Gubernur. Tapi jangan sampai setiap hari disuruh absen, tapi kerja bagaimana enggak jelas. Jadi, saya seperti tahanan kota, mau pergi enggak bisa," kata Bambang saat dihubungi Senin (16/7).
(pmg)